Tampilkan postingan dengan label pohon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pohon. Tampilkan semua postingan

Jurnal Sylva Lestari_KEANEKARAGAMAN JENIS POHON DI HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI TERPADU TAHURA WAN ABDUL RACHMAN

KEANEKARAGAMAN JENIS POHON DI HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI
TERPADU TAHURA WAN ABDUL RACHMAN

(TREES DIVERSITY IN THE TAHURA WAN ABDUL RACHMAN
EDUCATIONAL FOREST)

Agung Wahyudi, Sugeng P. Harianto, dan Arief Darmawan

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Univesitas Lampung
Jl. Sumantri Brojonegoro No 1 Bandar Lampung, 35145

ABSTRAK

Hutan Pendidikan merupakan wahana bagi masyarakat khususnya pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mempelajari hutan dan hubungan timbal balik antarkomponen ekosistemnya. Data tentang spesies pohon yang menyusun hutan pendidikan merupakan informasi dasar yang diperlukan untuk pendidikan maupun pengembangan pengelolan hutan pendidikan. Paper ini ditujukan untuk mengisi ruang dimana informasi mengenai keanekaragaman pohon di blok hutan pendidikan Tahura Wan Abdul Rachman sangat terbatas dan kurang terdokumentasi dengan baik. Data spesies pohon dinventarisasi dengan intensitas sampling sebesar 0,12% dari 1.143 ha luas blok hutan pendidikan, yaitu seluas 1,37 ha. Luas petak contoh tersebut erbagi dalam 10 petak contoh di sub blok lindung dan 24 petak contoh di sub blok perhutanan sosial. Dari penelitan ini ditemukan 60 spesies pohon yang tersebar 41 spesies pada sub blok lindung dan 19 spesies pada sub blok perhutanan sosial. Pada sub blok lindung memilki Indeks Keanekaragaman sebesar 1,45 dan didominasi oleh spesies kenari
(Canarium commune) dengan INP sebesar 26,98%. Pada sub blok perhutanan sosial memilki Indeks Keanekaragaman sebesar 1,09 dan di dominasi oleh spesies durian (Durio zibethinus) dengan INP sebesar 67,28%.

Kata kunci : keanekaragaman, pohon, hutan pendidikan konservasi terpadu, Tahura Wan
                     Abdul Rachman




Melihat Jurnal klik disini



Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id/

Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari_KEANEKARAGAMAN JENIS POHON DI HUTAN PENDIDIKAN KONSERVASI TERPADU TAHURA WAN ABDUL RACHMAN

Sejarah Hari Bumi

Hari Bumi atau Earth Day yang selalu diperingati tanggal 22 April pada setiap tahunnya di selenggarakan pertama kali pada tanggal 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagas Earth Day bernama Gaylord Nelson, senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga seorang pengajar lingkungan hidup.

Sementara, gagasan tentang peringatan Hari Bumi mulai disampaikan oleh Gaylord Nelson sejak tahun 1969. Saat itu Gaylord Nelson memandang perlunya isu - isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan luas.

Dukungan ini mencapai puncaknya pada tanggal 22 April 1970. Saat itu sejarah mencatat jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta manusia turun ke jalan pada 22 April 1970.

Gaylord Nelson, pencetus Hari Bumi
Moment ini kemudian menjadi tonggak sejarah diperingatinya sebagai Hari Bumi yang pertama kali. Tanggal 22 April juga bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere ( belahan bumi utara ) sekaligus musim gugur di belahan bumi selatan. Sejak itu, pada tanggal 22 April setiap tahunnya Hari Bumi ( Earth Day ) diperingati.
Baca SelengkapnyaSejarah Hari Bumi

Pohon Merbau Darat

IDENTIFIKASI KAYU INDONESIA
Nama komersil Merbau
Nama daerah BiMarbau, merbo, taritih (Jawa); marbon, merbau asam, merbau darat, merbau pantai (Sumatera); alai, anglai, ipil, jumelai, maharau (Kalimantan); bayam, gefi, ipi, ipil, langgiri, ogili (Sulawesi); aisele, dowora, falai, ipi, ipil, kayu besi (Maluku); doma, fimpi, ipi, ipir (NTT); bau, kayu besi, pas, sekka (Papua)
Nama negara lain Go-nuoc (Vietnam); ipil, ipil laut (Philippines); kwila (PNG); lumpho, tumpaw, maka-mong (Thailand); moluccan ironwood (UK); mirabow (UK, USA); inzia (Italy); kajoe besi, moluks ijzerhout (Netherland); merbau (France, German, Italy, Netherland, Spain, Sweden).
Nama botanis Intsia spp
Famili Caesalpiniaceae
Daerah penyebaran Sumatera, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua (penyebaran dominan)
Arsitektur pohon Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan panjang batang bebas cabang 15-30 m, diameter sampai 200 cm, tinggi banir sampai 4 m dengan lebar sampai 4 m. Kulit luar berwarna kelabu, kelabu coklat, coklat muda atau merah muda, beralur dangkal pada l. bijuga dan tidak beralur pada palembanica, mengelupas sedikit sampai banyak, besar dan tebal, sedikit bergetah berwarna hitam atau merah tua
Gambar pohon / Tree figureShorea Intsia bijuga O. Ktze
Gambar kayu teras / Heartwood figure, Intsia bijuga O. Ktze
Warna kayu Kayu teras berwarna sangat bervariasi dari kelabu-coklat dan kuning-coklat sampai coklat merah cerah atau hampir hitam. Kayu gubal berwarna kuning pucat sampai kuning muda, dan dapat dibedakan dengan kayu teras
Tekstur Agak kasar
Arah serat Kebanyakan lurus, kadang-kadang tidak teratur dan berpadu
Kesan raba Permukaan kayu licin
Berat jenis kering udara
- Maksimum
- Minimum
- Rata-rata


1,04
0,52
0,80
Keterawetan Sukar diawetkan
Kelas awet I - II
Kelas kuat I - (III)
Kembang susut Kecil
Daya retak Rendah
Kekerasan Sangat keras
Sifat pengerjaan Agak sukar
Pengeringan Kayu merbau dapat mongering dengan baik tanpa cacat yang berarti
Tempat tumbuh Merbau tumbuh baik pada tanah lembab yang kadang-kadang digenangi air dan dapat juga tumbuh pada tanah kering, tanah berpasir dan tanah berbatu, baik pada tanah datar maupun tanah miring. Jenis ini memerlukan iklim basah sampai iklim kering dengan tipe curah hujan A-D, pada dataran rendah dengan kertinggian 0-50 m dari permukaan laut
Kegunaan Konstruksi berat, bantalan rel kereta api, jembatan, tiang listrik, kayu perkapalan, kayu perkakas, panel  



Sumber: IDENTIFIKASI KAYU INDONESIA
Baca SelengkapnyaPohon Merbau Darat

Identifikasi pohon pulai


PULAI

Taksonomi dan tatanama
Famili: Apocynaceae
Sinonim: Echites scholaris L., E. pala Ham.,Tabernaemontana alternifolia Burm.
Nama lokal/daerah: pulai.

Penyebaran dan habitat
Tersebar luas di Asia Pasifik mulai India dan Sri Lanka sampai daratan Asia Tenggara dan China Selatan, seluruh Malaysia hingga Australia Utara dan Kepulauan Solomon. Diintroduksi ke Amerika Utara sebagai tanaman hias. Toleran terhada berbagai-macam tanah dan habitat, dijumpai sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan sekunder. Banyak dijumpai di dataran rendah/ pesisir dengan curah hujan tahunan 1000- 3800 mm. Juga dijumpai pada ketinggian diatas 1000 m dpl. Salah satu sifat adalah dapat tumbuh di atas tanah dangkal Tidak tumbuhy pada sebaran alami yang suhunya kurang dari 8ºC, yang menunjukkan jenis ini tidak tahan udara dingin.

Baca SelengkapnyaIdentifikasi pohon pulai

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, Linn)

























Tumbuhan Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, Linn)
 
Nama daerah belimbing wuluh adalah : limeng (Aceh); selmengo (Gayo); asom belimbing, balimbingan (Batak); malimbi (Nias); belimbing wuluh (Jawa); bhalingbing bulu (Madura); blingbing buloh (Bali); calene (Bugis); dan malibi (Halmahera) (Muhlisah, 2000).
 
Klasifikasi tumbuhan Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, Linn) menurut Tjitrosoepomo
(2000) adalah sebagai berikut:
Divisi        : Spermatophyta
Sub divisi  : Angiospermae
Kelas        : Dicotyledonae
Bangsa     : Geraniales
Suku         : Oxalidaceae
Marga        : Averrhoa
Jenis          : Averrhoa bilimbi, Linn
 
Belimbing wuluh merupakan pohon hidup pada ketinggian 500-750 M.dpl dan tempat tumbuh yang disukainya ialah yang lebih banyak terkena matahari langsung. Pohon tersebut setelah besar dapat mencapai ketinggian 5-10 meter, mempunyai batang yang tidak begitu besar dengan permukaan kasar dan berbenjol- benjol, dahan jarang, kasar dan mudah patah. Daun majemuk menyirip dengan anak daun berbentuk bulat telur atau oval, daun berwarna coklat muda, sedangkan yang tua berwarna hijau kekuningan. Panjang daun 30-60 cm dan berkelompok 5 diujung cabang. Pada setiap daun terdapat 21-45 anak daun yang berselang-seling atau setengah berpasangan (Muhlisah, 2000; van Steenis, 1997)

sumber:digilib.ump.ac.id/files/disk1/2/jhptump-a-dianapriya-76-2-babii.pdf
image: obeninstgram
Baca SelengkapnyaBelimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, Linn)

Kader Konservasi Tanam Mangrove di Pantai Klara


Kader Konservasi Tanam Mangrove di Pantai Klara
Oleh: Oben, S.Hut
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2002). Menurut Nybakken (1982), hutan bakau atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.
Banyak hal kecil yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian alam, salah satunya dengan penanaman propagul mangrove.Memanfaatkan momentum hari menanam pohon indonesia dan bulan menamann nasional tahun 2013, yang jatuh pada tanggal 28 November, Hari menanam pohon Indonesia dan bulan menanam nasional ini ditetapkan melalui keputusan presiden No 24 tahun 2008. Penanaman yang dilakukan di pantai klara Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pasawaran, Forum Komunikasi Kader Konservasi ini tergabung dari seluruh pencinta alam, dan Kelompok profesi di Provinsi lampung. Tak kurang empat belas orang ambil bagian dalam kegiatan penanaman ini.
Momentum ini juga salah satu tujuan untuk menguatkan internal agar terjalinnya silatuharim antar kader agar kerjasama team yang kokoh sehingga bisa tetap menyampaikan pesan konservasi kepada seluruh kalangan masyarakat khususnya masayarakat lampung.
Pantai Klara Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran, yang memiliki beragam Jenis pohon mangrove, jenis ini diantaranya Rhizopora, avicennia, brugueira dan masih banyak lagi, pohon mangrove yang paling banyak menghasilkan buah atau propagul yaitu pada jenis Rhizopora. Ada beberapa cara dalam menanan mangrove yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan bibit yang telah tumbuh di dalam polybag atau media tumbuh dan menggunakan buah mangrove atau propagul. Banyaknya buah mangrove atau propagul yang ada membuat kami berpikir untuk membantu dalam perkembangbiakan secara alami dari pohon mangrove dengan membantu menanam propagul.
Baca SelengkapnyaKader Konservasi Tanam Mangrove di Pantai Klara

TINGGI POHON

TINGGI POHON

Apa Itu Tinggi ?
Tinggi pohon (tree height, h) adalah jarak terpendek antara suatu titik (pada pohon) dengan titik proyeksinya
pada bidang datar (permukaan tanah). Seringkali dirancukan dengan “panjang”, jarak yang menghubungkan antara dua titik pada batang yang diukur menurut atau tidak menurut garis lurus.

Klasifikasi tinggi pohon:
– Tinggi total: jarak antara titik pucuk pohon dengan proyeksinya pada bidang datar
– Tinggi bebas cabang: jarak antara titik lepas dahan atau lepas cabang atau batas tajuk dengan proyeksinya pada bidang datar
Baca SelengkapnyaTINGGI POHON

Pohon Dadap Ayam


Dadap Ayam

(Erythirna variegata L. Var..Orientalis(L.) Merr)
Sinonim :
Erythirna variegata L. Var..Orientalis(L.) Merr
Familia :
Papillionaceae (Leguminosae).
Uraian :
Pohon yang menggugurkan daun, tinggi 1-25 m. Batang dan ranting kebanyakan berduri tempel. Poros daun dengan tangkai panjang 10-40 cm, tidak berduri tempel; anak daun bulat telur terbalik, segitiga atau bentuk belah ketupat dengan ujung tumpul, tepi rata, jarang berlekuk sedikit; anak daun ujung yang terbesar, 9-25 kali 10-30 cm. Bunga dalam tandan samping, pada ujung ranting yang gundul atau yang ada daun mudanya.

Baca SelengkapnyaPohon Dadap Ayam

FK3I Lampung Melakukan Penanaman Pohon

Penanaman Pohon 

Peringatan Hari air Sedunia, Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Lampung Melakukan pembagian bibit MPTS dan Penanaman bersama pada Kawasan Tahura Wan Abdurahman di areal kelompok tani maju Lestari Desa Pinang Jaya Bandar Lampung, kegiatan ini diikuti oleh anggota kelompok tani maju lestari, Kelompok pencinta alam berbagai Universitas dan Himpunan mahasiwa kehutanan Unila (Himasylva) kegiatan ini merupakan rangkayan ketiga pada kegiatan Hari air 2013 dengan dilakukannya penanaman ini diharapkan mampu menghijaukan kembali Tahura Wan abdurahman agar sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai daerah tangkapan air. 

    
    Poto kegiatan penanaman bersama FK3I Lampung 


Baca SelengkapnyaFK3I Lampung Melakukan Penanaman Pohon

Bahan kuliah Silvika

II. TOLERANSI DAN KELAS TAJUK
Definisi umum
Pohon adalah tumbuhan berkayu yang mempunyai suatu batang dan tajuk yang jelas, yang biasanya mempunyai ketinggian sampai sekurang – kurangnya 5 meter. Ini adalah suatu definisi yang sangat umum. Untuk lebih mudahnya jenis pohon dibedakan menurut ukuran kelas tertentu, yaitu:
• Anakan – dimulai perkecambahan sampai mencapai ketinggian 1 m.
• Sapihan, kecil – dimulai dari ketinggian 1 m sampai 3 m.
• Sapihan, besar – dimulai dari ketinggian 3 m, sampai diameter setinggi dada 10 cm.
• Tiang, kecil – dimulai dari garis tengah setinggi dada 10 cm – 20 cm.
• Tiang ,besar – dimulai dari garis tengah setinggi dada 20 cm. – 30 cm.
• Standar – dimulai dari garis tengah setinggi dada 30 cm – 60 cm.
• Veteran – dimulai dari garis setinggi dada lebih dari 60 cm.
Pohon toleran dan Intoleran.
Dikehutanan istilah toleransi berarti kemampuan dari suatu tumbuhan untuk hidup bertahan dibawah naungan. Pohon – pohon yang mempunyai kapasitas ini dinamakan toleran, atau tahan terhadap naungan. Pohon – pohon yang tidak mempunyai sifat – sifat ini disebut intoleran, atau untuk hidup membutuhkan atau menunut adanya cahaya.
Perbedaan – perbedaan terpenting diantara pohon toleran dan intoleran :
1. pohon – pohon toleran dapat memproduksi dan membentuk tegakan bawah dibawah atap – atap tajuk dari pohon intoleran atau bahkan dibawah naungannya sendiri; pohon intoleran hanya mereproduksi dengan sukses ditempat terbuka atau dimana atap tajuk terbuka.
2. apabila pohon toleran membentuk suatu tegakan bawah mereka amat ulet, dan dapat tumbuh selama bertahun – tahun meskipun riapnya amat kecil. Kalau diakhirnya mereka dibebaskan dari pengaruh naungan, meraka akan tumbuh dengan sangat baik. Pohon – pohon intoleran cepat mati dibawah naungan, dan bila dibebasakan sebelum mati, seringkali tidak menunjukan reaksi terhadap pembebasan ini.
3. pohon –pohon toleran mempunyai tajuk yang tebal yang terdiri dari beberapa lapisan daun, dimana lapisan daun yang paling dalam (daun – daun yang dekat pada batang) dapat berfungsi pada cahaya yang amat rendah intensitasnya. Pohon – pohon intoleran mempunyai tajuk yang tipis dan terbuka.
4. pohon – pohon toleran membersihkan batangnya dari ranting – ranting secara perlahan – lahan, oleh karena daun – daunya dapat berfungsi pada cahaya yang amat rendah intensitasnya. Sedangkan jenis – jenis intoleran cepat membersihkan batangnya, oleh karanya itu dapt menghasilkan batang bebas cabang yang lebih tinggi propersinya.
5. batang dari pohon – pohon jenis intoleran adalah lebih silindris dari pada batang pohn – pohon jenis toleran dalam kondisi kerapatan tagakan yang sama, sedangkan bentuk batang pohon toleran lebih banyak menyerupai kerucut.
6. pertumbuhan tinggi diwaktu kecil adalah lebih cepat pada pohon intoleran dari pada pada pohon – pohon jenis toleran.

PENENTUAN TOLERANSI
Beberapa data cara penentuan toleransi dibawah ini dapat dipergunakan :
Kerapatan tajuk.
Kerapatan tajuk memberikan data cara yang tepat untuk penentuan toleransi, oleh karena sejumlah besar daun – daun hidup yang dapat hidup bertahan di dalam tajuk akan memperbesar kerapatan tajuk. Kerpatan tajuk adalah salah satu kriteria toleransi yang terbaik.
Pemangakasan alami.
Kecepatan dimana suatu batang pohon membersihkan diri dari cabang – cabang yang lebih rendah letak nya, terutama pada tegakan – tegakan terbuka, dianggap suatu indikator yang baik dari derajat toleransi, oleh karena kematian dari cabang yang lebih rendah ini terutama disebabkan karena kekurangan cahaya. Pohon pohon intoleran cepat membersihkan diri dari cabang – cabang, sedangakan pohon – pohon toleran ditempat terbuka akan tertutup dengan cabang – cabang sampai permukaan tanah.
Struktur daun
Struktur daun dari banyak pohon – pohon intoleran ditandai oleh suatu epidermis yang berat, keras dan mengkilat, jaringan pagat yang baik, dan suatu parenohyma bunga karang yang kecil. Daun – daun seringkali tebal dan seperti kulit bentuknya. Bentuk daun – daun dari jenis – jenis toleran adalah justru kebalikanya.
Keadaaan pemudaan alami dibawah tegakan.
Keadaan pemudaan alami ditanah di bawah naungan pada dasarnya sebenarnya merupakan indikator yang sebaik – baiknya tentang toleransi. Pertumbuhan yang terjadi dengan baik ditambah lagi dengan sehatnya tumbuh – tumbuhan tersebut dibawah naungan menunjukan bahwa tumbuh – tumbuhan tersebut dapat bertahan dibawah nauangan (toleran)
Sudahlah jelas bahwa tidak ada suatu kriteria toleransi yang paling baik. Toleransi harus dinilai sebagian besar dengan cara – cara yang subjektif, dimana hal – hal penting yang perlu diobservir adalah : kerapatan tajuk, kemampuan membersihkan batang, kemampuan dari permudaan untuk hidup dan tumbuh dibawah atap tajuk yang rapat.
DAFTAR – DAFTAR SPECIES POHON DAN KEBUTUHANNYA AKAN CAHAYA.
a. Sangat membutuhkan cahaya : Adina cordifolia, Bombax malabarikum, Gmelina arborea, Tectona grandis, Casuarina equisetifolia.
b. Membutuhkan cahaya : Acacia leucophloca (pilang), Bauhinia malabarica, Eugenia jambolana, Melia indica, Spondias mangifera (kedondong).
c. Membutuhkan setengah cahaya : Albizzia lebbeck, Dalbergia spp, Sizyphus spp, Lagersomia speciosa (bungur), Vitex pubescens (laban).
d. Tahan naungan : Butea Frondosa, Mangifera indica (mangga), Mimusops elingi (tanjung), Sohleiehera trijuga, Garcinia indica (manggis hutan).
e. Membutuhkan naungan berat : Aegle mermeles, Pongamia glabra, Xylia spp.


PENTINGNYA TOLERANSI DALAM PRAKTEK SILVIKULTUR.
Pengetahuan mengenai toleransi dari berbagai species pohon hutan adalah penting dalam praktek silvikultur. Telah banyak dibuat peraturan – peraturan dan praktek – praktek yang didasarkan kepada toleransi relatif dari pohon – pohon dan tagakan.
Dalam praktek kehutanan di Eropa perhatian khusus telah diberikan kepada efek – efek yang tidak disukai dari tegakan terbuka jenis – jenis intoleran. Pengaruh yang terdiri dari jenis – jenis intoleran pada umumnya tidak disukai disebabkan oleh efek – efek pengeringan dan efek – efek dari angain kering pada permukaan tanah, sehingga tagakan – tagakan seperti itu biasanya ditanami dengan tumbuhan bawah yang terdiri dari jenis – jenis toleran, tegakan – tegakan campuran yang terdiri dari jenis – jenis toleran dan intoleran sangat dianjurkan, oleh karana adanya efek – efek yang menguntungkan dari jenis – jenis toleran dalam melidungi permukaan tanah terhadap matahari angin dan dalam memelihara atau memperbesar produktivitas tanah. Hanya jenis – jenis yang mempunyai tajuk – tajuk rapat dan tumbuh dalam tegakan – tegakan yang atap tajuknya tertutup dapat dianjurkan untuk ditanam sebagai tagakan – tagakan murni. Jenis – jenis pinus intoleran yang tajuknya terbuka diperbolehkan ditanam sebagai tegakan murni selama terdapat suatu tanaman penutup tanah untukmelindungai permukaan tanah.
Sangatlah penting bahwa jenis – jenis toleran dipelihara sedemikian rupa didalam tegakan – tegakan campuran sehingga tidak mengalahkan pohon – pohon intoleran yang disukai.
Jenis toleran mempunyai kemampuan untuk hidup dan bertahan selama waktu yang reletip panjang sebagai tumbuhan bawah : namun jenis intoleran harus tetap tumbuh cukup cepat supaya tajuik mereka tetap berada diatas, jika tidak mereka akan kalah didalam persaingan dengan jenis toleran yaitu apabila jenis ini menjadi lebih agresif dari pada jenis intoleran.
radiasi matahari
Sumber energi utama bagi tumbuhan hijau adalah radiasi sinar matahari. Energi ini diabsorbsi oleh tumbuhan secara langsung sebagai panas dan juga dirubah oleh tumbuhan tersebut menjadi energi kimiawi. Sejak tumbuhan hijau bergantung kepada cahaya matahari untuk mensintesis suplai makanannya, maka cahaya telah lama dikenal sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan pemudaan vegetasi. Energi matahari mencapai permukaan bumi sebagai gelombang – gelombang elektromagnetis. Bagian dari energi radiasi yang dapat dilihat mata manusia dinamakan cahaya. Energi yang terdiri dari panjang gelombang yang lebih panjang dari pada 720 mu dinamakan inframerah, dan yang lebih pendek dari pada 409 mu dinamakan ultra-ungu.
cahaya
Pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan tanaman bergantung kepada intensitasnya, kualitas atau panjang gelombangnya, lamanya serta priodisitasnya. Variasi dalam salah satu dari sifat – sifat ini dapat merubah kuantitas dan kualitas pertumbuhan, sebagai contoh anakan – anakan pohon yang tumbuh dalam cahaya berintensitas rendah tidak hanya berbeda tinggi dan berat kering dibandingkan dengan anakan – anakan pohon yang tumbuh dalam cahaya penuh, namun juga berbeda dalam perbandingan akan pucuk dan struktur daun serta batang. Lama penyinaran atau photo period mempengaruhi pertumbuhan vegetatip dan pembangunan, dan panjang gelombang mempengaruhi proses-proses lainya disamping terhadap fotosintesa.
kualitas cahaya atau panjang gelombang
Di alam ini, tumbuh – tumbuhan dikenal pengaruh penyinaran yang tidak tampak yang sangat luas penyebaranya. Termasuk didalamnya sinar inframerah yang lebih panjang panjang gelombangnya dari pada cahaya yang tampak, dan sinar ultra-ungu serta radiasi kosmik yang mempunyai pajang gelomgang lebih pendek dari yang pada cahaya yang tampak. Tumbuh tumbuhan pun dalam eksperimen – eksperimen dapat disinari sinar – sinar x dan bahan – bahan radioaktif. Semua panjang – panjang gelombang yang tak tampak ini dapat mempengaruhi pertumbuhan, apabila lama penyinaran dan intersitasnya cukup lama. Didalam variasi dalam panjang gelombang atau kualitas cahaya adalah sangat kecil, sehingga kepentingan fisiologisnya dapat diabaikan. Namun untuk pertumbuhan tanaman di bawah penyinaran tiruan kualitas cahaya ini sangat penting. Pertambahan yang paling besar dalam berat kering biasanya terjadi pada spektrum sinar matahari.

intensitas cahaya
intensitas cahaya sangat mempengaruhi pertumbuhan pohon melalui effek – effeknya secara langsung terhadap fotosintesis, pembukaan stomata, dan sintesa chlorophyll. Pengaruh intensitas cahaya terhadap pembesaran sel dan differensiasi sel berpengaruh terhadapap tumbuh tunggi, ukuran daun, dan struktur dari daun – daun serta batang.
Intensitas berlainan setiap hari dan stiap musim dan berubah menurut sderajat lintang. Penyinaran yang diterima persatu luas adalah llebih besar pada tampat – tempat tinggi dari pada tempat – tempat rendah. Awan, kabut, debu, dan asap dapat manahan cahaya, dan asap dapat menahan cahaya, dan di daerah – daerah industri sebanyak 90 % dari cahaya tertahan oleh asap. Terdapat literatur yang luas mengenai effek dari intensitas cahaya tehadap pertumbuhan pohon dan tentang reaksi dari berbagai species terhadap intensitas cahaya yang diredusir. Beberapa contoh : species sequoia mempunyai kebutuhan akan cahaya yang amat rendah, sedangkan Picea engelmanni dan Pseudotsuga menzzi membutuhkan cahya kira – kira dua kali lebih banyak untuk tumbuh dengan baik. Telah terbukti bahwa sejumlah species tumbuh – tumbuhan cepat hidup bertahan untuk beberapa bulan pada intensitas – intensitas cahaya rendah, namun tidak satupun yang bertambah berat kering. Bertamnbahnya berat kering yang sihasilkan hampir langsung sebanding dengan intensitas cahaya yang diterima.
INTENSITAS CAHAYA DAN PERTUMBUHAN
Pertumbuhan, yang ditentukan oleh pertambahan dalam berat kering bergantung kepada jumlah hasil fotosintesa dikurangi bagian yang terpakai dalam proses respirasi. Oleh sebab itu cahaya mempunyai effek yang signifikan tehadap pertumbuhan, karena pengaruh pada fotosintesa. Fotosintesa maksimum terjadi dalam cahaya matahari penuh. Namun, selama tengah hari, intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan meningkatnya temperatur daun yang berakibat buruk. Hal ini dapat menyebabkan menutpnya stomata dan menurunya fotosintesa.
Banyak bahan kering yang dihasilkan biasanya akan meningkat dengan bertambahnya intensitas cahaya sampai tercapai suatu keadaan maksimum dan kemudian menurun. Intensitas yang optimum bagi pertumbuhan berubah – ubah menurut temperatur dari cholopyll dan bergantung kepada intensitas cahaya.
Intensitas cahaya yang sangat tinggi lebih baik bagi pertumbuhan perakaran dari pada untuk pertumbuhan pucuk. Intensitas yang seperti ini menyebabkan transpirasi yang berlebihan pada tumbuhan, yang mengakibatkan batang – batang menjadi pendek, daun – daun yang lebih tebal tetapi lebih kecil, betambah banyaknya jaringan – jaringan pengankut air, dan menurunnya pertumbuhan. Pada intensitas – intensitas cahaya yang amat rendah perkembangan dan pertumbuhan daun –daun terhalang. Produksi bunga dan buah tidak terjadi pada cahaya yang amat lemah, namun berlangsung pada intensitas – intensitas sedang. Defisiensi cahaya dapat menunda waktu berbunga dan berbuah. Intensitas cahaya yang optimum bagi perkembangan bunga dan buah, maupun untuk produksi maksimum dari bahan kering, adalah lebih tinggi dari pada yang deperlukan untuk pertumbuhan vegetatip. Persentase dari bahan ( pucuk- pucuk), ratio dari berat kering akar – akar terhadap berat kering pucuk, kekuatan batang , dan tebal daun semuanya akan meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya.
Bahan lengkap klik disini 
Baca SelengkapnyaBahan kuliah Silvika