Tampilkan postingan dengan label MARGASARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MARGASARI. Tampilkan semua postingan

Jurnal Sylva Lestari_NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI
KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

(TOTAL ECONOMIC VALUE OF MANGROVE FOREST IN MARGASARI
VILLAGE SUB DISTRICT OF LABUHAN MARINGGAI DISTRICT OF
LAMPUNG TIMUR)

Ria Indrian Ariftia, Rommy Qurniati, dan Susni Herwanti

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Jl. Soemantri Brojonegoro no.1 Bandar Lampung, 35145
Email : HeikenyoRia@gmail.com

ABSTRAK

Selama ini pemanfatan hasil hutan bukan kayu yang merupakan salah satu potensi hutan
mangrove kurang mempertimbangkan aneka produk dan jasa yang dapat dihasilkan.
Konversi lahan untuk pemanfatan lain dipandang lebih menguntungkan daripada mengali
potensi yang ada. Tujuan penelitan yang dilaksanakan pada bulan April – Mei 2013 adalah
menghitung nilai ekonomi total hutan mangrove Desa Margasari Kecamatan Labuhan
Maringai Kabupaten Lampung Timur. Responden adalah 43 masyarakat sekitar hutan
mangrove yang dipilh secara purposive sampling. Data dikumpulkan dengan pengamatan
langsung di lapangan, wawancara dan dianalisis mengunakan formula nilai ekonomi total
(Total Economic Value/TEV) secara deskriptif. Hasil penelitan menunjukan bahwa nilai
ekonomi total hutan mangrove sebesar Rp 10.530.519.419,0 per tahun yang diperoleh dari
(1) nilai guna langsung sebesar Rp 1.87.40.00,0 per tahun dari pemanfatan rajungan,
udang, kepitng, daun jeruju, buah pidada, kayu bakar dan ekowisata, (2) nilai guna tak
langsung sebesar Rp 8.915.036.479,0pertahun dari penyedia pakan alami bagi biota laut, (3)
nilai pilhan sebesar Rp 103.425.00,0 per tahun dari keanekaragaman hayati dan (4) nilai
keberadan Rp 1.580.00,0 per tahun dari kesedian membayar masyarakat.

Kata kunci: hutan mangrove, nilai ekonomi total, nilai guna, nilai bukan guna



Jurnal Lengkap klik disini












Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari_NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

Jurnal Sylva Lestari INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN OBAT DI HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR

INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN OBAT DI HUTAN MANGROVE DESA 
MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR

(MEDICINAL PLANT SPECIES INVENTORY ON MANGROVE FOREST AT 
MARGASARI VILLAGE LABUHAN MARINGGAI DISTRICT, EAST LAMPUNG)

Supriyanto, Indriyanto, dan Afif Bintoro

Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung, 35145
E-mail : riyan_menhut@yahoo.co.id

ABSTRAK

Hutan mangrove di Lampung Mangrove Center (LMC) Desa Margasari Lampung Timur
merupakan salah satu areal yang masih baik kondisinya dan masih menyimpan berbagai
potensi yang harus digali misalnya tumbuhan obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui jenis-jenis, keanekaragaman jenis, dan khasiat tumbuhan mangrove untuk obat.
Penelitian dilakukan pada bulan April 2012 di Dusun 12 Translok Desa Margasari Lampung
Timur. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak, dan
wawancara dengan masyarakat, serta studi kepustakaan. Jumlah petak contoh yang digunakan
sebanyak 12 buah. Data dianalisis menggunakan rumus kerapatan, kerapatan relatif,
frekuensi, frekuensi relatif, indeks nilai penting, dan indeks keanekaragaman Shannon.
Berdasarkan hasil penelitian telah diketahui sebanyak 7 jenis tumbuhan sebagai obat, antara
lain: api-api (Avicennia marina) untuk obat rematik dan sakit gigi; jeruju (Acanthus
ilicifolius) untuk obat kanker dan diabetes; nipa (Nypa fruticans) untuk obat asma dan
diabetes; bakau (Rhizophora apiculata) untuk obat antiseptik; beluntas (Pluchea indica) untuk
bau badan; jenu (Derris trifoliata) untuk obat pencuci perut; dan tapak kuda (Ipomoea
pescaprae) untuk obat luka dan bisul. Api-api merupakan tumbuhan paling dominan dan
penyebarannya terluas karena mempunyai nilai indeks penting yang tinggi yaitu 144,24%
serta frekuensi sebesar 67,5%. Tumbuhan beluntas mempunyai kerapatan tertinggi yaitu
144,24%  serta frekuensi sebesar 67,5%. Tumbuhan beluntas mempunyai kerapatan tertinggi yaitu
senilai 12.708,33 individu/ha. Hutan mangrove Desa Margasari Dusun 12 Translok
mempunyai keanekaragaman yang rendah, karena hasil perhitungan diperoleh nilai indeks
Shannon sebesar H’=0,44.

Kata kunci : hutan mangrove, inventarisasi, tumbuhan obat



Jurnal Lengkap klik disini












Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN OBAT DI HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR

Jurnal Sylva Lestari KELAYAKAN USAHA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU
EKOSISTEM MANGROVE DI DESA MARGASARI LAMPUNG TIMUR

(FEASIBILITY ANALYSIS BASED OF NON-TIMBER FOREST PRODUCT
MANGROVE ECOSYSTEM IN MARGASARI LAMPUNG TIMUR)

Mayang Haris Wahyukinasih, Christine Wulandari, dan Susni Herwanti
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung, 35145
E-mail : mayang.haris17@gmail.com

ABSTRAK

Kawasan hutan mangrove di Indonesia umumnya telah mengalami degradasi akut tidak terkecuali yang ada di Kabupaten Lampung Timur karena masyarakat kurang mengindahkan aspek konservasi dalam pemanfaatannya. Perlu pengembangan industri berbasis hasil hutan bukan kayu ekosistem mangrove agar tekanan terhadap pemanfaatan hutan mangrove dapat direduksi seperti yang telah dilakukan oleh beberapa kelompok di Desa Margasari. Agar diperoleh indikator keberlanjutan usaha industri rumah tangga tersebut maka perlu diketahui kelayakan finansial industri rumah tangga yang sudah ada. Penelitian ini dilakukan pada
bulan April sampai dengan Mei 2013 dengan tujuan untuk menganalisis kelayakan usaha pengolahan daun jeruju (Acanthus ilicifius) dan buah pidada (Sonneratia caseolaris) menjadi berbagai produk olahan dan menganalisis simulasi tingkat suku bunga dan harga untuk menentukan kebijakan fiskal demi perkembangan usaha. Responden dalam penelitian adalah semua anggota usaha industri rumah tangga Karya Wanita dan Peduli Lingkungan Hidup (PLH), Pengambilan responden dilakukan secara purposive, metode yang digunakan berupa observasi dan wawancara langsung sedangkan analisis kelayakan usaha yang digunakan adalah Gross B/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan daun jeruju (Acanthus ilicifius) dan buah pidada (Sonneratia caseolaris) dari kelompok Karya Wanita yang layak untuk dilaksanakan karena memiliki nilai Gross B/C lebih dari 1 dengan suku bunga 2 % adalah pangsit dengan nilai 1,10 dan peyek (1,04) untuk kelompok Peduli Lingkungan Hidup (PLH) produk yang layak adalah peyek (1,42). Produk yang memiliki nilai Gross B/C lebih dari 1 dengan suku bunga 1 % kelompok Karya Wanita adalah peyek (1,09), Pempek (1,02), Pangsit (1,10), dan Sirup (1,009). Kelompok Peduli Lingkungan Hidup memiliki produk yang layak untuk dilaksanakan yaitu hanya peyek (1,48).

Kata kunci : gross B/C, hasil hutan bukan kayu, hutan mangrove, industri rumah tangga


Jurnal Lengkap klik















Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id
Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari KELAYAKAN USAHA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU