Tampilkan postingan dengan label jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnal. Tampilkan semua postingan

ETNOBOTANI TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT ETNIS DAYAK MERATUS KALIMANTAN SELATAN DAN UPAYA KONSERVASI DI KHDTK SAMBOJA

“Tumbuhan Obat dari Hutan: Konservasi, Budidaya dan Pemanfaatan” 3

ETNOBOTANI TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT
ETNIS DAYAK MERATUS KALIMANTAN SELATAN DAN UPAYA KONSERVASI DI KHDTK SAMBOJA

Noorcahyati dan Zainal Arifin

Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam
Jl. Soekarno Hatta KM.38 PO.BOX 578 Balikpapan 76112, Kalimantan Timur
Telp: (0542)7217663, Fax (0542)7217665, e-mail: cahyati25@gmail.com

ABSTRAK

Etnis dayak meratus, Kalimantan Selatan memiliki pengetahuan pengobatan tradisional dengan menggunakan berbagai jenis tumbuhan berkhasiat obat yang berada disekitar mereka mulai dari hutan, kebun karet tua, ladang, hingga pekarangan. Pengetahuan tersebut, umumnya dikuasai kaum tua dengan menggunakan proses transfer pengetahuan secara lisan dari generasi ke generasi tanpa ada pendokumentasian secara tertulis. Jika tidak dilakukan pendokumentasian, dikhawatirkan pengetahuan pengobatan tradisional akan hilang, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan hilangnya jenis tumbuhan berkhasiat obat. Salah satu peran etnobotani membantu dalam mendokumentasikan pengetahuan pengobatan tradisional tentang jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, cara meramu, bagian tumbuhan yang digunakan, serta habitat atau pun tempat dimana tumbuhan berkhasiat obat diambil. Makalah ini memberikan gambaran mengenai jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat, cara meramu, dan bagian tumbuhan yang digunakan serta pemanfaatannya untuk mengobati penyakit yang digunakan oleh etnis dayak meratus. Tercatat 110 jenis tumbuhan dan lebih dari 57 famili yang dimanfaatkan untuk bahan pengobatan. Informasi tersebut berguna untuk keperluan pelestarian dan pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat itu sendiri. Sebagai bentuk upaya konservasi, beberapa jenis tumbuhan berkhasiat obat yang diperoleh dari lokasi penelitian juga dibuat koleksi hidup pada Plot Tumbuhan Berkhasiat Obat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja.
Kata kunci : Etnobotani, dayak meratus, konservasi



Lihat Jurnal Klik disini 




Sumber ; http://www.forda-mof.org/





Baca Selengkapnya → ETNOBOTANI TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT ETNIS DAYAK MERATUS KALIMANTAN SELATAN DAN UPAYA KONSERVASI DI KHDTK SAMBOJA

GALAM Volume 1.

GALAM 

Volume 1. 

Galam merupakan media resmi publikasi ilmiah populer yang diterbtkan oleh Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Cetakan pertama atau Galam Vol. 1 No. 1 dikeluarkan pada Bulan Agustus 2015.Pada edisi perdana ini berisikan 6 buah karya ilmiah hasil iptek dari Peneliti BPK Banjarbaru.
Adapun ke-6 makalah ilmiah tersebut adalah : 1). Fungi Endofit: Potensi Pemanfaatannya Dalam Budidaya Tanaman Kehutanan; 2). Studi Pengusahaan Kayu Manis Di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan; 3). Kondisi Sifat Fisik Dan Kimia Tanah Serta Iklim Mikro Pada Tiga Tahap Perkembangan Pekarangan; 4). Pengaruh Model Polybag Dan Bedeng Terhadap Pertumbuhan Tiga Provenan Ramin Di Persemaian Bpk Banjarbaru; 5). Persiapan Lahan Pada Tanaman Gemor (Nothaphoebe Coriacea): Daya Hidup Dan Pertumbuhan Umur 3 Bulan; 6). Pembinaan Masyarakat Sekitar Khdtk Dalam Bentuk Pemasyarakatan Iptek;



Lihat publikasi Klik disini



Sumber : http://www.forda-mof.org/




Baca Selengkapnya → GALAM Volume 1.

KERAGAMAN MORFOLOGI, EKOLOGI, POHON INDUK, DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) DI KALIMANTAN

KERAGAMAN MORFOLOGI, EKOLOGI, POHON INDUK, DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) DI KALIMANTAN (Morphological Diversity, Ecology, Mother Trees, and Conservationof Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) in Kalimantan)*
 
Kade Sidiyasa, Tri Atmoko, Amir Ma'ruf, dan/and Mukhlisi
 
Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam
Jl. Soekarno-Hatta, km. 38 Samboja, Telp. 0542-7217663, Faks. 0542-7217665
e-mail: bpt.ksda@forda-mof.org; bpt.kpdas@gmail.com; sidiyasa_k@yahoo.co.id; tri.atmoko@forda-mof.org; muci_musci@yahoo.co.id
Diterima : 5 April 2011; Disetujui : 27 Mei 2013


ABSTRACT

In Indonesia, ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) is found naturally only in Sumatra and Kalimantan. Nowdays, exploitation of this species is still happening and therefore it tends to become distinct. At the other hand, there are still a lot of aspects that need to be studied. This study focused on morphological diversities, ecology, mother trees, and conservation of ulin in Kalimantan. Result of the study indicates that ulin has a very high diversity in morphological characters, both vegetatively and generatively (especially on shape and size of the fruits or seeds). Ecologically, ulin trees grow well in humid tropical forests, non innundated lands up to 500(-625) m above sea level, on flat areas surrounding the streams and rivers, on undulating lands, slopes and ridges. Regarding to thesoil conditions, the habitat of ulin is usually sandy, low pH and low macroscopic chemical elements (N,P,K). The potency of ulin as mother trees in nature vary from 22.11% to 32.30% of the total existing population. In connection with the conservation efforts, the in-situ and ex-situ conservations have been implemented; however, security and control for the conservation areas (mainly in-situ) need to be more improved.
Keywords: Botanical data, regeneration, vegetation, soil and climate, in-situ and ex-situ conservation



Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/CLSv/download

SUMBER : http://ejournal.forda-mof.org/
Baca Selengkapnya → KERAGAMAN MORFOLOGI, EKOLOGI, POHON INDUK, DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) DI KALIMANTAN

POTENSI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT DI KABUPATENLAMPUNG BARAT DAN KABUPATEN TANGGAMUS, PROVINSILAMPUNG

POTENSI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT DI KABUPATEN
LAMPUNG BARAT DAN KABUPATEN TANGGAMUS, PROVINSI
LAMPUNG

Oleh :

Sri Utami, Asmaliyah
Balai Penelitian Kehutanan Palembang

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara ’mega biodiversity’ yang mempunyai kekayaan flora berlimpah termasuk tumbuhan obat. Berdasarkan catatan WHO, lebih dari 20.000 spesies tumbuhan obat yang digunakan oleh penduduk seluruh dunia. Jumlah spesies tumbuhan obat yang digunakan sebagai bahan obat di Indonesia sangat bervariasi, tergantung darimana sumber informasinya. Sampai saat ini untuk keperluan pengobatan/kesehatan, masyarakat cenderung menggunakan dan bergantung pada obat-obat kimia. Jika tidak dilakukan upaya pendokumentasian pengetahuan dan kearifan masyarakat tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan obat, dikhawatirkan akan semakin banyak plasma nutfah Indonesia yang punah karena ketidaktahuan kita akan manfaat dan perannya terhadap kehidupan manusia. Penelitian ini dilakukan di Kab. Lampung Barat dan Kab. Tanggamus, Provinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan obat yang secara tradisional digunakan masyarakat di 2 lokasi penelitian berjumlah 122 jenis yang berasal dari famili Arecaceae, Graminea, Malvaceae, Piperaceae dan Zingiberaceae. Sebagian besar jenis tumbuhan obat tradisional yang digunakan masyarakat di lokasi penelitian tersebut adalah jenis yang secara umum sudah dikenal dan diteliti khasiatnya sebagai tumbuhan obat.




Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/FSvE/download

Sumber : http://www.forda-mof.org/index.php/content/publikasi_search

Baca Selengkapnya → POTENSI PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT DI KABUPATENLAMPUNG BARAT DAN KABUPATEN TANGGAMUS, PROVINSILAMPUNG

IDENTIFIKASI DAN POTENSI KERUSAKAN RAYAP PADATANAMAN TEMBESU ( ) DI KEBUN PERCOBAANWAY HANAKAU, LAMPUNG UTARA

IDENTIFIKASI DAN POTENSI KERUSAKAN RAYAP PADA
TANAMAN TEMBESU ( ) DI KEBUN PERCOBAAN
WAY HANAKAU, LAMPUNG UTARA

Fagraea fragrans
(Termite Identification and Potential Damage on Tembesu Plantation in
Experiment Field of Way Hanakau, North Lampung)

Asmaliyah , Andika Imanullah dan Wida Darwiati
 
Balai Penelitian Kehutanan Palembang
Jl. Kol. H. Burlian Km. 6,5 Punti Kayu PO. Box. 179, Palembang, Sumatera Selatan
Telp./Fax. 0711-414864
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan, Bogor
Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610
Telp. 0251-8631238, Fax. 0251-7520005
Naskah masuk : 3 Desember 2011; Naskah diterima : 30 November 2012
Tembesu ( Roxb) is one of the local tree species that has fairly economic and ecological value. It is promising to be developed for the area in South Sumatera, Jambi and Lampung. However, developing plantation of this species is hindered by damage due to termites. Therefore, it is necessary to carry out research, since there are no reports on the species of termites that attack tembesu and its pest control management does not exist. The results showed that it was found that termite attacking tembesu plants in the experiment garden of Way Hanakau, North Lampung belongs to species of Isoptera: Termitidae . This termite is catagorized as a quite important pest due to its potentials to cause economic losses and threat the development of tembesu plantation forests.

Keywords: Identify, tembesu, termitidae



Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/4XDW/download

Sumber:http://www.forda-mof.org/index.php/content/publikasi_search
Baca Selengkapnya → IDENTIFIKASI DAN POTENSI KERUSAKAN RAYAP PADATANAMAN TEMBESU ( ) DI KEBUN PERCOBAANWAY HANAKAU, LAMPUNG UTARA

KAJIAN KONSEP KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN MODEL WAY TERUSAN REGISTER 47

KAJIAN KONSEP KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN
MODEL WAY TERUSAN REGISTER 47
(An Analysis of the Concept of Register 47 Way Terusan
Forest Management Unit Model)

Oleh/By :
1) Iis Alviya & Elvida Yosefi Suryandari

ABSTRACT

Forest and land degradation is having a severe impact on rural communities in Indonesia. This degradationcauses land slides, erosion and sedimentation, loss of biodiversity, and a marked decrease in national income from forest timber. The Central Lampung Regency is one district where levels of land deforestation and degradation have increased significantly. In order to establish sustainable forestry, the government has arranged a concept of development of forest management unit called Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Based on this concept, forest areas will be divided into small managemet units, so that sustainability issues can be managed more effectively. With this goal in mind, the aims of this study were: (1) to identify the general condition and problems of KPH model Way Terusan Register 47, and (2) to analyze a concept of development of KPH Model Way Terusan Register 47. Qualitative descriptive analysis was applied to data gathered using survey methods. The results show that the KPH Model Way Terusan has had a good concept related the development of KPH Model that consists of short-term (1-5 years) and long-term (6-20 years) plans. However, there are some institutional and social issues that should be addressed to facilitate implementation. Institutional issues include the interelatedness of stakeholders,rules of guide line, organizations, funding, and human resources. The social issues to consider are land occupation by communities and the different plant commodities which will be developed in that KPH area. In realizing this KPH will involve finding solutions to these institutional and social issues, synchronizing perceptions of what a KPH is, and socialising the many related stakeholders to the KPH concept.
 
Keywords: KPH Model Way Terusan Register 47, Concept of KPH, institusional constraint and social constraint


Lihat Jurrnal Klik disini

http://gdurl.com/dCoC/download
Sumber: http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JAKK/article/view/354

Baca Selengkapnya → KAJIAN KONSEP KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN MODEL WAY TERUSAN REGISTER 47

PENGARUH PERBEDAAN KECEPATAN PUTAR (RPM) DISC MILL TERHADAP KESERAGAMAN UKURAN BUTIRAN GULA SEMUT

PENGARUH PERBEDAAN KECEPATAN PUTAR (RPM) DISC MILL
TERHADAP KESERAGAMAN UKURAN BUTIRAN GULA SEMUT

THE EFFECT OF DIFFERENT ROTATIONAL SPEED (RPM) DISC MILL
TOWARD THE UNIFORMITY INDEX OF BROWN SUGAR
 
Novi Kharisma1, Sri Waluyo2, Tamrin3

1Mahasiswa JurusanTeknik Pertanian, FakultasPertanian,Universitas Lampung
2,3Staf Pengajar JurusanTeknik Pertanian, FakultasPertanian,Universitas Lampung
komunikasi penulis, email :sriwaluyo@gmail.com
Naskah ini diterima pada 22 September 2014; revisi pada 21 Oktober 2014;
disetujui untuk dipublikasikan pada 31 Oktober 2014

ABSTRACT

The aims of this researchwere to find out the effect of different rotational speed of discmill to the size spreading and uniformity index of brown sugar and to knowthe optimal rotational speed of disc mill producing size of 0,8 to 1,2mm. The parameters observed were water content, fineness modulus (FM), uniformity index, grain yield, bulk density, and color. The research was conducted at five variations of rotational speed which were 800, 900, 1000, 1100, and 1200 rpm with 1500 g sample for each variations.The results show that the water content of brown sugar is between 1,30 and 1,76%, the fineness modulus is around 1,99 to 4,74, the particle size is around 0,41 to 2,79mm, the highest grainyield reaches 45,32%atactual speed of 900 rpm, and the range of bulk density is about 721,07 to 740,40 kg/m3. The color of the middle fraction compared with commercial sugar is not significantly different. The color indexes of middle fraction in each treatment are IRED 0,41 to 0,43, IGREEN around 0,35, and IBLUE 0,22 to 0,24. Based on the analysis of variance and Duncan’s method (α < 0,05) show that the rotational speed (rpm) significantly affects to the particle size, fineness modulus, and grain yield, but not to the water content, bulk density and color.
 
Keywords :Brown sugar, discmill, rotational speed (rpm)



Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/57mm/download

Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/

Baca Selengkapnya → PENGARUH PERBEDAAN KECEPATAN PUTAR (RPM) DISC MILL TERHADAP KESERAGAMAN UKURAN BUTIRAN GULA SEMUT

TRANSPORTASI BASAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria acuminata)

TRANSPORTASI BASAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria acuminata)

Ridho Ilhami*†, Mahrus Ali‡, dan Berta Putri

ABSTRAK

Transportasi benih nila (Oreochromis niloticus) merupakan bagian dalam kegiatan usaha pembenihan nila. Metode transportasi yang dapat digunakan salah satunya adalah transportasi sistem basah dengan memanfaatkan ekstrak bunga kamboja (Plumeria acuminata) sebagai bahan anestesi (pembiusan). Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak bunga kamboja yang paling efektif dalam anestesi benih nila pada transportasi sistem basah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan A (0 mg/L), B (0,398 mg/L ekstrak bunga kamboja), C (1,584 mg/L ekstrak bunga kamboja), dan D (6,304 mg/L ekstrak bunga kamboja), masing-masing perlakuan 6 ulangan. Parameter yang diamati adalah uji toksisitas, kecepatan pingsan, lama pulih sadar, tingkat kelangsungan hidup, kecepatan pertumbuhan dan kualitas air (suhu, oksigen terlarut dan pH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak bunga kamboja antar perlakuan berbeda nyata (P>0,05) terhadap periode kecepatan pingsan, lama waktu pulih sadar, tingkat kelangsungan hidup dan kecepatan pertumbuhan harian. Konsentrasi ekstrak bunga kamboja antar perlakuan tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kecepatan pertumbuhan harian benih nila. Konsentrasi ekstrak bunga kamboja yang paling efektif untuk teknik anestesi dalam transportasi sistem basah adalah 6,304 mg/L dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 94,43%

Kata kunci: ekstrak, bunga kamboja, transportasi benih, nila, anestesi




Lihat Jurnal Klik disini 

http://gdurl.com/c-uu/download
Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca Selengkapnya → TRANSPORTASI BASAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus) MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KAMBOJA (Plumeria acuminata)

KAJIAN BIOLOGI IKAN TEMBAKANG (Helostoma temminckii) DI RAWA BAWANG JUYEUW KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT

KAJIAN BIOLOGI IKAN TEMBAKANG (Helostoma temminckii) DI RAWA BAWANG JUYEUW
KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT

J. T. H. Tarigan*†, Rara Diantari‡ dan Eko Efendi‡

ABSTRAK

Kajian perikanan pada tembakang (Helostoma temminckii) di Rawa Bawang Juyeuw Kabupaten Tulang Bawang Barat dilakukan untuk mempelajari potensi biologinya. Kajian ini diperlukan sebagai data dasar domestikasi tembakang sebagai ikan budidaya dan konservasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu terbaik untuk penangkapan tembakang ukuran benih sampai dewasa adalah pada Maret sampai April dengan menggunakan jaring tancap yang tidak mematikan tembakang. Morfologi tembakang pada ukuran yang berbeda menunjukkan stok yang belum tereksploitasi dan layak dijadikan plasma nutfah perikanan tangkap dan budidaya yang berkelanjutan. Pada ukuran benih sampai dewasa isi pencernaan tembakang didominasi oleh plankton sebagai makanan utamanya. Masyarakat lokal disarankan untuk menjadikan tembakang sebagai alternatif sumber protein hewani selain ikan eksotis yang mulai banyak berkembang di Rawa Juyeuw.

Kata kunci: ikan lokal, domestikasi, perikanan, isi lambung.




Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/fDL2/download

Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca Selengkapnya → KAJIAN BIOLOGI IKAN TEMBAKANG (Helostoma temminckii) DI RAWA BAWANG JUYEUW KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT

PENURUNAN FOSFAT PADA SISTEM RESIRKULASI DENGAN PENAMBAHAN FILTER YANG BERBEDA

PENURUNAN FOSFAT PADA SISTEM RESIRKULASI DENGAN PENAMBAHAN FILTER YANG BERBEDA

Nainna Anjanni Ade Lestari*†, Rara Diantari‡ dan Eko Efendi‡

ABSTRAK

Peningkatan sisa pakan dan buangan metabolit yang terakumulasi dapat menyebabkan peningkatan fosfat sehingga kualitas air menjadi rendah yaitu menurunnya kadar oksigen terlarut pada perairan. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengaplikasikan sistem resirkulasi dengan penambahan filter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan fosfat pada sistem resirkulasi dengan penambahan filter yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2013 di Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Hewan uji yang digunakan sebagai penghasil fosfat yaitu lele sangkuriang (Clarias gariepnus) berukuran 3-5 cm/ekor dengan padat tebar 200 ekor/m2 dan dipelihara selama 60 hari. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yaitu kolam tanpa filter (kontrol), kolam dengan filter zeolit, kolam dengan filter arang dan kolam dengan filter pecahan karang dimana setiap perlakuan diberikan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan filter yang berbeda menyebabkan terjadinya penurunan fosfat yang berbeda nyata (P>0,05). Penurunan fosfat tertinggi terjadi pada jenis media filter arang yaitu sebanyak 0,02675 mg/l, sedangkan penurunan fosfat terendah terjadi pada jenis media filter zeolit yaitu sebanyak 0,021 mg/l.

Kata kunci: fosfat, resirkulasi, filter, lele, arang aktif




Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/8u1N/download

Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/

Baca Selengkapnya → PENURUNAN FOSFAT PADA SISTEM RESIRKULASI DENGAN PENAMBAHAN FILTER YANG BERBEDA

ANALISIS KELAYAKAN USAHA AGROINDUSTRI KOPI LUWAK DI KECAMATAN BALIK BUKIT KABUPATEN LAMPUNG BARAT

ANALISIS KELAYAKAN USAHA AGROINDUSTRI KOPI LUWAK
DI KECAMATAN BALIK BUKIT KABUPATEN LAMPUNG BARAT
(The Financial Feasibility Analysis of Luwak Coffee Agroindustry at Balik Bukit District
of West Lampung Regency)

Rico Pahlevi, Wan Abbas Zakaria, Umi Kalsum

Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro No. 1
Bandar Lampung 35145, Telp. 085269258396, e-mail: ricodomo@gmail.com
 
ABSTRACT

The study aimed to analyze the financial feasibility of luwak coffee agroindustry. The research was conducted at Balik Bukit district of West Lampung Regency. This location was selected purposively. The research used primary and secondary data. The research samples were 2 agro industries which were chosen purposively. The data was collected in Oktober to November 2012. The financial feasibility was analyzed by NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C, Payback Period, BEP and sensitivity. The results showed that small and micro agroindustries of luwak coffee at Balik Bukit District of West Lampung Regency were financially feasible and profitable to be developed, the increase of cost and decrease of product’s price influenced the luwak coffee agro industries.
 
Keywords: financial feasibility, macro agroindustry, luwak coffee, small agroindustry



Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/326O/download
Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca Selengkapnya → ANALISIS KELAYAKAN USAHA AGROINDUSTRI KOPI LUWAK DI KECAMATAN BALIK BUKIT KABUPATEN LAMPUNG BARAT

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VOLUME EKSPOR KAKAO PROVINSI LAMPUNG

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VOLUME EKSPOR KAKAO 
PROVINSI LAMPUNG
(Affecting Factors on the Volume of Cocoa Exports in Lampung Province)

Widuri Prameswita, R Hanung Ismono, Begem Viantimala

Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. 1
Bandar Lampung 35145, Telp. 082378593731, e-mail: prameswitawiduri@yahoo.com

ABSTRACT

Lampung Province is the fourth cocoa producer in Indonesia after North Sumatra, West Sumatera, and Aceh. Lampung Province cocoa trade is large because the demand for its export and export price are relatively high. This study aims to determine the factors that influence the volume of cocoa exports and determine the impact of cocoa export tax rates (taxe exports) in Lampung Province. This study used both descriptive and quantitative analysis methods in which data was obtained from the relevant authorities as secondary data for 20 years, starting from 1993 to 2012. The research data was analyzed by SPSS 16.0 program for window. For purposes of data analysis and hypothesis testing proposed, used the method of”econometrics”. The results of this study showed that 1) the factors that significantly affected the export volume of cocoa in Lampung Province was the volume of cocoa production, cocoa export price (ICCO), interest rate, domestic price of cocoa and tariffs out (export tax) cocoa and 2) the impact after rising tariffs out (export taxes) would reduce the volume of cocoa exports in Lampung Province.
 
Keywords : international trade, cacao, exports, export tarrif, export volume




Lihat Jurnal Klik disini

 http://gdurl.com/tQY3/download
Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id


Baca Selengkapnya → FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VOLUME EKSPOR KAKAO PROVINSI LAMPUNG

ANALISIS KETERKAITAN DAN PENGGANDA EKONOMI KARET INDONESIA (Linkage Analysis and Multiplier Effect of Indonesian Rubber)

ANALISIS KETERKAITAN DAN PENGGANDA EKONOMI KARET INDONESIA
(Linkage Analysis and Multiplier Effect of Indonesian Rubber)
 
Tutik Alfiah, Bustanul Arifin, Zainal Abidin

Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. 1
Bandar Lampung 35145, Telp. 085768744766, e-mail: tutikalfiah@rocketmail.com

ABSTRACT

This study aims to (1) analyze the relationship between rubber and other sectors, (2) determine the multipliers effect of rubber sub-sector on output, household income and added value. This research used Grimp to analyze the impact of the rubber sub-sector of the Indonesian economy. The results showed that (1) backward linkages of rubbers to the input providers sectors relatively high although tended to be conctreated on the railway transport sector, public administration, social services, land transportation and rubber sector itself, (2) increase all of those part which created by rubber plantation dominantly enjoyed by rubber plantation dominantly enjoyed by textile industry, clothes & leather than rubber plantation itself, (3) rubber plantations have a coefficient multiplier output, added value and household income which relatively large, indicated rubber plantations was relatively large in encouraging the creation of output, added value, and household income in Indonesian economy.
 
Keywords: added value, analysis input-output, multipliers effect, rubber




Lihat Jurnal Klik disini

http://gdurl.com/LylN/download

Sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id
Baca Selengkapnya → ANALISIS KETERKAITAN DAN PENGGANDA EKONOMI KARET INDONESIA (Linkage Analysis and Multiplier Effect of Indonesian Rubber)

PEMANFAATAN CITRA ALOS PALSAR DALAM MENDUGA BIOMASA HUTAN ALAM: STUDI KASUS DI TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE

PEMANFAATAN CITRA ALOS PALSAR DALAM MENDUGA BIOMASA HUTAN ALAM:
STUDI KASUS DI TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE

THE UTILIZATION OF ALOS PALSAR IMAGE TO ESTIMATE NATURAL FOREST 
BIOMASS: CASE STUDY AT BOGANI NANI WARTABONE NATIONAL PARK

Nurlita Indah Wahyuni1

1Balai Penelitian Kehutanan Manado; Jl. Raya Adipura Kelurahan Kima Atas Kecamatan Mapanget Manado 

Telp. 0431-3666683; Email: nurlita.indah@gmail.com
Diterima: 04 Maret 2014; direvisi: 14 Mei 2014; disetujui: 22 Mei 2014


ABSTRAK

Perkembangan teknologi penginderaan jauh saat ini memungkinkan pemanfaatan data dalam berbagai bidang, termasuk kehutanan. Selain dimanfaatkan untuk pemetaan penutupan lahan dan pemantauan deforestasi, data citra satelit juga bisa digunakan untuk pendugaan biomasa. Tulisan ini memaparkan pemanfaatan data citra satelit ALOS PALSAR untuk menduga dan memetakan biomasa atas permukaan pada hutan alam di kawasan TN Bogani Nani Wartabone yaitu di SPTN II Doloduo dan SPTN III Maelang. Metode yang digunakan adalah pemodelan hasil pengukuran biomasa di lapangan dengan nilai dijital pada citra. Terdapat dua macam peta sebaran biomasa dan karbon yang dapat dibuat dari data hasil pengukuran dan citra ALOS PALSAR dengan resolusi 50 m. Peta dibuat berdasarkan polarisasi hamburan balik yaitu HH dan HV. Kedua peta menggambarkan sebagian besar wilayah SPTN II Doloduo dan SPTN III Maelang didominasi oleh kelas biomasa pertama dengan cadangan biomasa sebesar 0-5.000 ton/ha.

Kata kunci: biomasa, hutan alam, ALOS PALSAR




Lihat Jurnal Klik disini


Sumber: http://www.forda-mof.org/
Baca Selengkapnya → PEMANFAATAN CITRA ALOS PALSAR DALAM MENDUGA BIOMASA HUTAN ALAM: STUDI KASUS DI TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE

Cultural Capital Of The Communities In The Mangrove Conservation In The Coastal areas Of Ambon Dalam Bay, Moluccas, Indonesia

International Conference on Tropical and Coastal Region Eco-Development 2014 (ICTCRED 2014)

Cultural Capital Of The Communities In The Mangrove
Conservation In The Coastal areas Of Ambon Dalam Bay, Moluccas, Indonesia

Messalina L Salampessy, Indra G Febryano, Edwin Martin, Martha E. Siahaya, 
Renold Papilaya

a. Department of Forestry, Agriculture Faculty, University of Pattimura Ambon, Indonesia
b. Department of Forestry, Agriculture Faculty, University of Lampung, Indonesia
c. Research Institute for Forestry Palembang, Indonesia
d. Polytechnics of Agriculture Samarinda, Indonesia
e. Fishery Faculty, University of Pattimura Ambon, Indonesia

Abstract
Mangroves have an important role to the conservation of the ecosystem continues to experience damage due to land conversion activities. But on the other hand there are still people who attempted to preserve and maintain the mangroves in their area. This research aims to describe the efforts of the communities by using the cultural capital concept that they have. The method used is a case study, in which data collection was conducted through in-depth interviews and participant observation. The data were analysed using the theory of cultural capital. The results showed that people were able to adapt and modify the environment as a form of cultural capital possessed. The communities applying traditional ecological knowledge and establish institutions so that mangrove conservation is maintained. The government may accommodate the cultural capital in development policy and coastal areas conservation.

© 2014 The Authors. Published by Elsevier B.V.
Peer-review under responsibility of scientific committee of the ICTCRED 2014.

Keywords:mangrove, cultural capital, traditionalecologicalknowledge, institutional


Lihat Jurnal Klik disini




Sumber: http://www.sciencedirect.com/

Baca Selengkapnya → Cultural Capital Of The Communities In The Mangrove Conservation In The Coastal areas Of Ambon Dalam Bay, Moluccas, Indonesia

PREFERENSI PAKAN ANOA (Bubalus sp.) DI PENANGKARAN BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANADO

PREFERENSI PAKAN ANOA (Bubalus sp.) DI PENANGKARAN
BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANADO
(PREFERED FEED OF ANOA (Bubalus sp.)
AT MANADO FORESTRY RESEARCH INSTITUTE CAPTIVITY)

Oleh
Diah Irawati Dwi Arini dan Yermias Kafiar
Balai Penelitian Kehutanan Manado
Jl. Raya Adipura Kelurahan Kima Atas, Kecamatan Mapanget, Manado, Sulawesi Utara, Indonesia
Telp: (0431) 3666683,
email: irawati.diah@gmail.com
Diterima: 05 Nopember 2014; direvisi: 14 Nopember 2014; disetujui: 18 Nopember 2014

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis pakan yang tersedia dan tingkat kesukaan pakan anoa pada kondisi pra penangkaran di Balai Penelitian Kehutanan Manado. Metode yang digunakan adalah metode uji coba terhadap 12 pakan yang tersedia di sekitar penangkaran terhadap dua ekor anoa betina. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik sedangkan untuk preferensi pakan data dianalisis dengan menggunakan persamaan indeks Neu’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anoa di penangkaran BPK Manado tidak mengalami kesulitan dalam proses adaptasi pakan. Rata-rata kebutuhan pakan untuk anoa di BPK Manado adalah sekitar 10,2-11,7 kg/hari dimana pakan diberikan dua kali dalam sehari. Sedangkan berdasarkan ketersediaan dan kemudahan mendapatkan pakan di sekitar penangkaran anoa memiliki prefrensi tinggi berturut-turut terhadap jenis rumput lapangan, kangkung, pisang sepatu, buncis, kacang panjang dan ketimun. Sedangkan tingkat kesukaan terendah adalah pakan yang memiliki tekstur keras seperti ubi jalar, wortel ataupun kentang. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan merekomendasikan variasi pemberian pakan anoa dapat dilakukan setiap 4-5 kali sehari.

Kata Kunci : anoa, pakan, penangkaran, preferensi




Lihat Jurnal Klik disini



Sumber: http://www.forda-mof.org/
Baca Selengkapnya → PREFERENSI PAKAN ANOA (Bubalus sp.) DI PENANGKARAN BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANADO

KERAGAMAN JENIS BURUNG DI DAS TAYAWI TAMAN NASIONAL AKETAJAWE-LOLOBATA

KERAGAMAN JENIS BURUNG DI DAS TAYAWI TAMAN NASIONAL AKETAJAWE-LOLOBATA BIRDS DIVERSITY IN TAYAWI’S WATERSHEED AREA
AKETAJAWE-LOLOBATA NATIONAL PARK

Oleh
Diah Irawati Dwi Arini1 dan Julianus Kinho1
1Balai Penelitian Kehutanan Manado; Jl. Raya Adipura Kel.Kima Atas, Kec.Mapanget – Manado;
e-mail : bpk_mdo@yahoo.com
Diterima: 15 Pebruari 2014; direvisi: 06 Mei 2014; disetujui: 21 Mei 2014


ABSTRAK

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata (TNAL) ditetapkan sebagai salah satu kawasan konservasi di Indonesia karena memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian sumber daya alam hayati serta keunikan ekosistemnya. Kegiatan eksplorasi biodiversitas fauna bertujuan untuk melakukan identifikasi terhadap keragaman jenis burung di TNAL khususnya pada kawasan DAS Tayawi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode transek jalur dan identifikasi jenis dilakukan secara visual baik melalui perjumpaan langsung maupun melalui suara. Hasil dari penelitian ini berhasil mengidentifikasi sebanyak 55 jenis burung yang dikelompokkan ke dalam 25 famili, 17 jenis
diantaranya merupakan jenis endemik kawasan Wallacea. Penurunan populasi yang ditandai oleh sedikitnya jenis burung yang dijumpai diindikasikan sebagai akibat kerusakan habitat dan perburuan.

Kata Kunci : Burung, Aketajawe-Lolobata, Das Tayawi, Maluku Utara




Lihat Jurnal Klik disini




Sumber: http://www.forda-mof.org/
Baca Selengkapnya → KERAGAMAN JENIS BURUNG DI DAS TAYAWI TAMAN NASIONAL AKETAJAWE-LOLOBATA

UJICOBA PENGECAMBAHAN VEGETASI PANTAI (Terminallia cattapa, Calopyllum inophylum L, dan Baringtonia asiatica) DI PERSEMAIAN PERMANEN KIMA ATAS

UJICOBA PENGECAMBAHAN VEGETASI PANTAI
(Terminallia cattapa, Calopyllum inophylum L, dan Baringtonia asiatica)
DI PERSEMAIAN PERMANEN KIMA ATAS

Ady Suryawan1, Nur Asmadi1, dan Rinna Mamonto1
1Balai Penelitian Kehutanan Manado; Jl. Raya Adipura, Kelurahan Kima Atas, Kec. Mapanget, Manado Sulut
email : suryawanbioconserv@gmail.com
Diterima: 17 Pebruari 2014; direvisi: 16 April 2014; disetujui: 23 April 2014


ABSTRAK

Diperkirakan Sulawesi Utara membutuhkan 9.870.093,33 bibit vegetasi pantai guna merehabilitasi kerusakan yang terjadi di ekosistem sempadan pantai mencapai 14.805,14 ha dan terluas pada kawasan berstatus APL 13.884 ha. Tujuan penelitian ini memberikan informasi tentang teknik pengecambahan vegetasi pantai di Persemaian Permanen Kima Atas, Manado. Rancangan Acak Lengkap disusun secara faktorial dengan ulangan sebanyak 3. Ketapang (T. cattapa) akan didapat viabilitas tinggi ketika terjadi fluktuasi suhu dan kelembaban yang tinggi yaitu dengan menggunakan media pasir, tanpa disungkup dan diletakan dibawah naungan 25 % dan terkena hujan. 
Keben (B. asiatica) melalui penyayatan dan pembusukan didalam karung yang ditempatkan dilokasi terbuka akan didapat viabilitas hingga 90 % dalam waktu 2 bulan. Nyamplung (C. inophyllum) membutuhkan pemecahan cangkang guna meningkatkan viabilitas dapat dilakukan dengan cara peretakan dan pengupasan merupakan cara terbaik.

Kata kunci: biji, pengecambahan, vegetasi pantai




Lihat jurnal klik disini




Sumber: http://www.forda-mof.org/

Baca Selengkapnya → UJICOBA PENGECAMBAHAN VEGETASI PANTAI (Terminallia cattapa, Calopyllum inophylum L, dan Baringtonia asiatica) DI PERSEMAIAN PERMANEN KIMA ATAS

DAMPAK PROGRAM PEMBERDAYAAN MODEL DESA KONSERVASI TERHADAP KEMANDIRIAN MASYARAKAT: KASUS DI TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN LAMPUNG

DAMPAK PROGRAM PEMBERDAYAAN MODEL DESA KONSERVASI
TERHADAP KEMANDIRIAN MASYARAKAT: KASUS DI TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN LAMPUNG
(Impact of Empowerment Program on Conservation Village Model toward community Sustainability: Case at Bukit Barisan Selatan National Park,Lampung)

Ristianasari , Pudji Muljono , & Darwis S. Gani
Pusat Penyuluhan Kehutanan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan
Telp. (021) 572-228, e-mail:
Dosen Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB Bogor
Guru besar Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB Bogor
diterima 22 Februari 2013, direvisi 19 Maret 2013, disetujui 31 Mei 2013

Deforestasi dan degradasi akibat perambahan kawasan merupakan permasalahan terbesar dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Sementara itu, berbagai aspek terkait kepentingan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya serta pengaruhnya terhadap perilaku konservasi mereka tidak dapat dipisahkan dalam pengelolaannya. Pemberdayaan bukan sekedar untuk menghentikan kerusakan kawasan, tetapi harus memperhatikan upaya pelestarian kawasan dalam aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. 

Pemberdayaan juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat yang mengarah pada kemauan dalam mengembangkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan untuk kesejahteraan. Model Desa Konservasi (MDK) merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi dan konservasi yang dilaksanakan TNBBS. Memahami proses dan dampaknya terhadap masyarakat merupakan langkah dasar dan strategis dalam upaya konservasi TNBBS. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kegiatan pemberdayaan masyarakat MDK di TNBBS; dan (2) menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan efektifitas pemberdayaan masyarakat MDK di TNBBS.

Desain penelitian menggunakan metode survey. Penelitian dilakukan di Pekon Sukaraja dan Pekon Kubu Perahu sebagai daerah penyangga dan enclave kawasan TNBBS. Analisis Menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sosio-demografi, interaksi serta akses terhadap sumber daya dan pendekatan pemberdayaan mempunyai korelasi sangat signifikan dengan kemandirian masyarakat. Upaya meningkatkan pemahaman terhadap karakteristik masyarakat dan menerapkan pendekatan pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi masyarakat merupakan hal penting dan relevan dalam mewujudkan kemandirian sebagai dampak pemberdayaan MDK di TNBBS.

Kata kunci: Model Desa Konservasi, pemberdayaan masyarakat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan


Lihat jurnal Klik disini



Sumber: http://www.forda-mof.org/
Baca Selengkapnya → DAMPAK PROGRAM PEMBERDAYAAN MODEL DESA KONSERVASI TERHADAP KEMANDIRIAN MASYARAKAT: KASUS DI TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN LAMPUNG

MANAJEMEN ADAPTASI DALAM PERUBAHAN IKLIM (Adaptive Management in the Climate Change)

MANAJEMEN ADAPTASI DALAM PERUBAHAN IKLIM
(Adaptive Management in the Climate Change)

Oleh / By :
Parlindungan Tambunan , Hendi Suhendi , Bambang Edy Siswanto & Yunita Lisnawati 12 3 4
1,2,3,4 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktifitas Hutan, Kementerian Kehutanan,
Jalan Gunung Batu No. 5, Bogor 16610, Jawa Barat. Telpon/Fax: (0251) 7520005,
E-mail:

Perubahan-perubahan iklim bumi yang sekarang telah merubah sistem ekologi di sekitar bumi. Rata-rata global temperatur permukaan bertambah sekitar 0,7°C. Pertambahan-pertambahan temperatur mempengaruhi semua proses kimia dan biologi kehidupan di alam yang mengubah secara dramatis dan kompleks ekosistem permukaan bumi. Perubahan-perubahan ekosistem merupakan tantangan terbesar bagi para manajer sumber daya alam dan perencana-perencana konservasi. Oleh sebab itu, pendekatanpendekatan baru dibutuhkan untuk pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem di dalam perubahan iklim. Salah satu pendekatan baru adalah menggunakan manajemen adaptasi. Manajemen adaptasi tidak hanya sebagai sebuah alat, tetapi juga mempunyai daya tarik perhatian pada pengalaman manajemen sebagai suatu sumber pembelajaran. Dengan pembelajaran, ide bersinar untuk menciptakan situasi yang lebih baik atau pembaharuan, karena proses perubahan ingatan dan tingkah laku terjadi dalam diri sendiri dan organsasi. Dengan demikian, implementasi manajemen adaptasi untuk mencapai solusi semua masalah adalah dengan komunikasi atau dialog antara para manajer atau pemimpin, para ahli, dan warga institusi, di samping pengetahuan sistem ekologi dan masalah lingkungan dan juga memiliki daya cipta.

Kata kunci: Perubahan iklim, manajemen adaptasi, komunikasi, pengetahuan dan pembaharuan.



Lihat Jurnal Klik disini



Sumber: http://www.forda-mof.org/index.php/content/jurnal/27
Baca Selengkapnya → MANAJEMEN ADAPTASI DALAM PERUBAHAN IKLIM (Adaptive Management in the Climate Change)