Tampilkan postingan dengan label MANGROVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANGROVE. Tampilkan semua postingan

The Roles and Sustainability of Local Institutions of Mangrove Management in Pahawang Island

The Roles and Sustainability of Local Institutions of Mangrove Management in Pahawang Island

Indra Gumay Febryano1*, Didik Suharjito2, Dudung Darusman2
Cecep Kusmana3, Aceng Hidayat4

1Graduate School of Bogor Agricultural University, Dramaga Main Road, Campus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia 16680
2Department of Forest Management, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University, Academic Ring Road, Campus IPBDramaga, PO Box 168, Bogor, Indonesia 16680
3Department of Silviculture, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, PO Box 168, Bogor, Indonesia 16680
4Department of Resource and Environmental Economics, Faculty of Economics and Management, Bogor Agricultural
University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, PO Box 168, Bogor, Indonesia 16680
Received March 19, 2014/Accepted July 14, 2014

Abstract
Local institutions along with community participation are crucial things in a sustainable development. Collective actions performed by a community in managing natural resources have led to success, but local institutions are also facing challenges to institutional sustainability. This research aimed to elucidate and explain the roles and sustainability of local institutions of mangrove management. This research is a qualitative research, using a case study method Research results showed that the majority of community support and admit that mangroves in their region as Mangrove Preservation Area under controlled by management of local organization with agreed rules. Nevertheless, the inability of local organizations to enforce such rules when facing investors and politics in the local
level has caused these organizations to elude their support and institutional status. It is for this reason that local institutions need to be strengthened through collaboration among local institutions, local, national and international NGOs, universities, research institutions, and many others. Such collaboration can improve bargaining position of local institutions, so that finally can promote regency government policies which favoring more to local institutions. Mangrove management in a sustainable way by local institutions will help regency government in rural development.

Keywords: local institution, organization, institution, community, mangrove
Correspondence author, e-mail: indragumay@yahoo.com, tel.: +62-81369050731





Jurnal Lengkap klik disini













Sumber: http://journal.ipb.ac.id/
Baca SelengkapnyaThe Roles and Sustainability of Local Institutions of Mangrove Management in Pahawang Island

Jurnal Sylva Lestari_NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI
KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

(TOTAL ECONOMIC VALUE OF MANGROVE FOREST IN MARGASARI
VILLAGE SUB DISTRICT OF LABUHAN MARINGGAI DISTRICT OF
LAMPUNG TIMUR)

Ria Indrian Ariftia, Rommy Qurniati, dan Susni Herwanti

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Jl. Soemantri Brojonegoro no.1 Bandar Lampung, 35145
Email : HeikenyoRia@gmail.com

ABSTRAK

Selama ini pemanfatan hasil hutan bukan kayu yang merupakan salah satu potensi hutan
mangrove kurang mempertimbangkan aneka produk dan jasa yang dapat dihasilkan.
Konversi lahan untuk pemanfatan lain dipandang lebih menguntungkan daripada mengali
potensi yang ada. Tujuan penelitan yang dilaksanakan pada bulan April – Mei 2013 adalah
menghitung nilai ekonomi total hutan mangrove Desa Margasari Kecamatan Labuhan
Maringai Kabupaten Lampung Timur. Responden adalah 43 masyarakat sekitar hutan
mangrove yang dipilh secara purposive sampling. Data dikumpulkan dengan pengamatan
langsung di lapangan, wawancara dan dianalisis mengunakan formula nilai ekonomi total
(Total Economic Value/TEV) secara deskriptif. Hasil penelitan menunjukan bahwa nilai
ekonomi total hutan mangrove sebesar Rp 10.530.519.419,0 per tahun yang diperoleh dari
(1) nilai guna langsung sebesar Rp 1.87.40.00,0 per tahun dari pemanfatan rajungan,
udang, kepitng, daun jeruju, buah pidada, kayu bakar dan ekowisata, (2) nilai guna tak
langsung sebesar Rp 8.915.036.479,0pertahun dari penyedia pakan alami bagi biota laut, (3)
nilai pilhan sebesar Rp 103.425.00,0 per tahun dari keanekaragaman hayati dan (4) nilai
keberadan Rp 1.580.00,0 per tahun dari kesedian membayar masyarakat.

Kata kunci: hutan mangrove, nilai ekonomi total, nilai guna, nilai bukan guna



Jurnal Lengkap klik disini












Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari_NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

Jurnal Sylva Lestari INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN OBAT DI HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR

INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN OBAT DI HUTAN MANGROVE DESA 
MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR

(MEDICINAL PLANT SPECIES INVENTORY ON MANGROVE FOREST AT 
MARGASARI VILLAGE LABUHAN MARINGGAI DISTRICT, EAST LAMPUNG)

Supriyanto, Indriyanto, dan Afif Bintoro

Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung, 35145
E-mail : riyan_menhut@yahoo.co.id

ABSTRAK

Hutan mangrove di Lampung Mangrove Center (LMC) Desa Margasari Lampung Timur
merupakan salah satu areal yang masih baik kondisinya dan masih menyimpan berbagai
potensi yang harus digali misalnya tumbuhan obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui jenis-jenis, keanekaragaman jenis, dan khasiat tumbuhan mangrove untuk obat.
Penelitian dilakukan pada bulan April 2012 di Dusun 12 Translok Desa Margasari Lampung
Timur. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak, dan
wawancara dengan masyarakat, serta studi kepustakaan. Jumlah petak contoh yang digunakan
sebanyak 12 buah. Data dianalisis menggunakan rumus kerapatan, kerapatan relatif,
frekuensi, frekuensi relatif, indeks nilai penting, dan indeks keanekaragaman Shannon.
Berdasarkan hasil penelitian telah diketahui sebanyak 7 jenis tumbuhan sebagai obat, antara
lain: api-api (Avicennia marina) untuk obat rematik dan sakit gigi; jeruju (Acanthus
ilicifolius) untuk obat kanker dan diabetes; nipa (Nypa fruticans) untuk obat asma dan
diabetes; bakau (Rhizophora apiculata) untuk obat antiseptik; beluntas (Pluchea indica) untuk
bau badan; jenu (Derris trifoliata) untuk obat pencuci perut; dan tapak kuda (Ipomoea
pescaprae) untuk obat luka dan bisul. Api-api merupakan tumbuhan paling dominan dan
penyebarannya terluas karena mempunyai nilai indeks penting yang tinggi yaitu 144,24%
serta frekuensi sebesar 67,5%. Tumbuhan beluntas mempunyai kerapatan tertinggi yaitu
144,24%  serta frekuensi sebesar 67,5%. Tumbuhan beluntas mempunyai kerapatan tertinggi yaitu
senilai 12.708,33 individu/ha. Hutan mangrove Desa Margasari Dusun 12 Translok
mempunyai keanekaragaman yang rendah, karena hasil perhitungan diperoleh nilai indeks
Shannon sebesar H’=0,44.

Kata kunci : hutan mangrove, inventarisasi, tumbuhan obat



Jurnal Lengkap klik disini












Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id/
Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN OBAT DI HUTAN MANGROVE DESA MARGASARI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR

Jurnal Sylva Lestari KELAYAKAN USAHA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU
EKOSISTEM MANGROVE DI DESA MARGASARI LAMPUNG TIMUR

(FEASIBILITY ANALYSIS BASED OF NON-TIMBER FOREST PRODUCT
MANGROVE ECOSYSTEM IN MARGASARI LAMPUNG TIMUR)

Mayang Haris Wahyukinasih, Christine Wulandari, dan Susni Herwanti
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung, 35145
E-mail : mayang.haris17@gmail.com

ABSTRAK

Kawasan hutan mangrove di Indonesia umumnya telah mengalami degradasi akut tidak terkecuali yang ada di Kabupaten Lampung Timur karena masyarakat kurang mengindahkan aspek konservasi dalam pemanfaatannya. Perlu pengembangan industri berbasis hasil hutan bukan kayu ekosistem mangrove agar tekanan terhadap pemanfaatan hutan mangrove dapat direduksi seperti yang telah dilakukan oleh beberapa kelompok di Desa Margasari. Agar diperoleh indikator keberlanjutan usaha industri rumah tangga tersebut maka perlu diketahui kelayakan finansial industri rumah tangga yang sudah ada. Penelitian ini dilakukan pada
bulan April sampai dengan Mei 2013 dengan tujuan untuk menganalisis kelayakan usaha pengolahan daun jeruju (Acanthus ilicifius) dan buah pidada (Sonneratia caseolaris) menjadi berbagai produk olahan dan menganalisis simulasi tingkat suku bunga dan harga untuk menentukan kebijakan fiskal demi perkembangan usaha. Responden dalam penelitian adalah semua anggota usaha industri rumah tangga Karya Wanita dan Peduli Lingkungan Hidup (PLH), Pengambilan responden dilakukan secara purposive, metode yang digunakan berupa observasi dan wawancara langsung sedangkan analisis kelayakan usaha yang digunakan adalah Gross B/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan daun jeruju (Acanthus ilicifius) dan buah pidada (Sonneratia caseolaris) dari kelompok Karya Wanita yang layak untuk dilaksanakan karena memiliki nilai Gross B/C lebih dari 1 dengan suku bunga 2 % adalah pangsit dengan nilai 1,10 dan peyek (1,04) untuk kelompok Peduli Lingkungan Hidup (PLH) produk yang layak adalah peyek (1,42). Produk yang memiliki nilai Gross B/C lebih dari 1 dengan suku bunga 1 % kelompok Karya Wanita adalah peyek (1,09), Pempek (1,02), Pangsit (1,10), dan Sirup (1,009). Kelompok Peduli Lingkungan Hidup memiliki produk yang layak untuk dilaksanakan yaitu hanya peyek (1,48).

Kata kunci : gross B/C, hasil hutan bukan kayu, hutan mangrove, industri rumah tangga


Jurnal Lengkap klik















Sumber: http://jurnal.fp.unila.ac.id
Baca SelengkapnyaJurnal Sylva Lestari KELAYAKAN USAHA BERBASIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU

Kader Konservasi Tanam Mangrove di Pantai Klara


Kader Konservasi Tanam Mangrove di Pantai Klara
Oleh: Oben, S.Hut
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2002). Menurut Nybakken (1982), hutan bakau atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.
Banyak hal kecil yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian alam, salah satunya dengan penanaman propagul mangrove.Memanfaatkan momentum hari menanam pohon indonesia dan bulan menamann nasional tahun 2013, yang jatuh pada tanggal 28 November, Hari menanam pohon Indonesia dan bulan menanam nasional ini ditetapkan melalui keputusan presiden No 24 tahun 2008. Penanaman yang dilakukan di pantai klara Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pasawaran, Forum Komunikasi Kader Konservasi ini tergabung dari seluruh pencinta alam, dan Kelompok profesi di Provinsi lampung. Tak kurang empat belas orang ambil bagian dalam kegiatan penanaman ini.
Momentum ini juga salah satu tujuan untuk menguatkan internal agar terjalinnya silatuharim antar kader agar kerjasama team yang kokoh sehingga bisa tetap menyampaikan pesan konservasi kepada seluruh kalangan masyarakat khususnya masayarakat lampung.
Pantai Klara Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran, yang memiliki beragam Jenis pohon mangrove, jenis ini diantaranya Rhizopora, avicennia, brugueira dan masih banyak lagi, pohon mangrove yang paling banyak menghasilkan buah atau propagul yaitu pada jenis Rhizopora. Ada beberapa cara dalam menanan mangrove yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan bibit yang telah tumbuh di dalam polybag atau media tumbuh dan menggunakan buah mangrove atau propagul. Banyaknya buah mangrove atau propagul yang ada membuat kami berpikir untuk membantu dalam perkembangbiakan secara alami dari pohon mangrove dengan membantu menanam propagul.
Baca SelengkapnyaKader Konservasi Tanam Mangrove di Pantai Klara