Halaman Depan

Rabu, 22 Desember 2010

Bahan kuliah Silvika

II. TOLERANSI DAN KELAS TAJUK
Definisi umum
Pohon adalah tumbuhan berkayu yang mempunyai suatu batang dan tajuk yang jelas, yang biasanya mempunyai ketinggian sampai sekurang – kurangnya 5 meter. Ini adalah suatu definisi yang sangat umum. Untuk lebih mudahnya jenis pohon dibedakan menurut ukuran kelas tertentu, yaitu:
• Anakan – dimulai perkecambahan sampai mencapai ketinggian 1 m.
• Sapihan, kecil – dimulai dari ketinggian 1 m sampai 3 m.
• Sapihan, besar – dimulai dari ketinggian 3 m, sampai diameter setinggi dada 10 cm.
• Tiang, kecil – dimulai dari garis tengah setinggi dada 10 cm – 20 cm.
• Tiang ,besar – dimulai dari garis tengah setinggi dada 20 cm. – 30 cm.
• Standar – dimulai dari garis tengah setinggi dada 30 cm – 60 cm.
• Veteran – dimulai dari garis setinggi dada lebih dari 60 cm.
Pohon toleran dan Intoleran.
Dikehutanan istilah toleransi berarti kemampuan dari suatu tumbuhan untuk hidup bertahan dibawah naungan. Pohon – pohon yang mempunyai kapasitas ini dinamakan toleran, atau tahan terhadap naungan. Pohon – pohon yang tidak mempunyai sifat – sifat ini disebut intoleran, atau untuk hidup membutuhkan atau menunut adanya cahaya.
Perbedaan – perbedaan terpenting diantara pohon toleran dan intoleran :
1. pohon – pohon toleran dapat memproduksi dan membentuk tegakan bawah dibawah atap – atap tajuk dari pohon intoleran atau bahkan dibawah naungannya sendiri; pohon intoleran hanya mereproduksi dengan sukses ditempat terbuka atau dimana atap tajuk terbuka.
2. apabila pohon toleran membentuk suatu tegakan bawah mereka amat ulet, dan dapat tumbuh selama bertahun – tahun meskipun riapnya amat kecil. Kalau diakhirnya mereka dibebaskan dari pengaruh naungan, meraka akan tumbuh dengan sangat baik. Pohon – pohon intoleran cepat mati dibawah naungan, dan bila dibebasakan sebelum mati, seringkali tidak menunjukan reaksi terhadap pembebasan ini.
3. pohon –pohon toleran mempunyai tajuk yang tebal yang terdiri dari beberapa lapisan daun, dimana lapisan daun yang paling dalam (daun – daun yang dekat pada batang) dapat berfungsi pada cahaya yang amat rendah intensitasnya. Pohon – pohon intoleran mempunyai tajuk yang tipis dan terbuka.
4. pohon – pohon toleran membersihkan batangnya dari ranting – ranting secara perlahan – lahan, oleh karena daun – daunya dapat berfungsi pada cahaya yang amat rendah intensitasnya. Sedangkan jenis – jenis intoleran cepat membersihkan batangnya, oleh karanya itu dapt menghasilkan batang bebas cabang yang lebih tinggi propersinya.
5. batang dari pohon – pohon jenis intoleran adalah lebih silindris dari pada batang pohn – pohon jenis toleran dalam kondisi kerapatan tagakan yang sama, sedangkan bentuk batang pohon toleran lebih banyak menyerupai kerucut.
6. pertumbuhan tinggi diwaktu kecil adalah lebih cepat pada pohon intoleran dari pada pada pohon – pohon jenis toleran.

PENENTUAN TOLERANSI
Beberapa data cara penentuan toleransi dibawah ini dapat dipergunakan :
Kerapatan tajuk.
Kerapatan tajuk memberikan data cara yang tepat untuk penentuan toleransi, oleh karena sejumlah besar daun – daun hidup yang dapat hidup bertahan di dalam tajuk akan memperbesar kerapatan tajuk. Kerpatan tajuk adalah salah satu kriteria toleransi yang terbaik.
Pemangakasan alami.
Kecepatan dimana suatu batang pohon membersihkan diri dari cabang – cabang yang lebih rendah letak nya, terutama pada tegakan – tegakan terbuka, dianggap suatu indikator yang baik dari derajat toleransi, oleh karena kematian dari cabang yang lebih rendah ini terutama disebabkan karena kekurangan cahaya. Pohon pohon intoleran cepat membersihkan diri dari cabang – cabang, sedangakan pohon – pohon toleran ditempat terbuka akan tertutup dengan cabang – cabang sampai permukaan tanah.
Struktur daun
Struktur daun dari banyak pohon – pohon intoleran ditandai oleh suatu epidermis yang berat, keras dan mengkilat, jaringan pagat yang baik, dan suatu parenohyma bunga karang yang kecil. Daun – daun seringkali tebal dan seperti kulit bentuknya. Bentuk daun – daun dari jenis – jenis toleran adalah justru kebalikanya.
Keadaaan pemudaan alami dibawah tegakan.
Keadaan pemudaan alami ditanah di bawah naungan pada dasarnya sebenarnya merupakan indikator yang sebaik – baiknya tentang toleransi. Pertumbuhan yang terjadi dengan baik ditambah lagi dengan sehatnya tumbuh – tumbuhan tersebut dibawah naungan menunjukan bahwa tumbuh – tumbuhan tersebut dapat bertahan dibawah nauangan (toleran)
Sudahlah jelas bahwa tidak ada suatu kriteria toleransi yang paling baik. Toleransi harus dinilai sebagian besar dengan cara – cara yang subjektif, dimana hal – hal penting yang perlu diobservir adalah : kerapatan tajuk, kemampuan membersihkan batang, kemampuan dari permudaan untuk hidup dan tumbuh dibawah atap tajuk yang rapat.
DAFTAR – DAFTAR SPECIES POHON DAN KEBUTUHANNYA AKAN CAHAYA.
a. Sangat membutuhkan cahaya : Adina cordifolia, Bombax malabarikum, Gmelina arborea, Tectona grandis, Casuarina equisetifolia.
b. Membutuhkan cahaya : Acacia leucophloca (pilang), Bauhinia malabarica, Eugenia jambolana, Melia indica, Spondias mangifera (kedondong).
c. Membutuhkan setengah cahaya : Albizzia lebbeck, Dalbergia spp, Sizyphus spp, Lagersomia speciosa (bungur), Vitex pubescens (laban).
d. Tahan naungan : Butea Frondosa, Mangifera indica (mangga), Mimusops elingi (tanjung), Sohleiehera trijuga, Garcinia indica (manggis hutan).
e. Membutuhkan naungan berat : Aegle mermeles, Pongamia glabra, Xylia spp.


PENTINGNYA TOLERANSI DALAM PRAKTEK SILVIKULTUR.
Pengetahuan mengenai toleransi dari berbagai species pohon hutan adalah penting dalam praktek silvikultur. Telah banyak dibuat peraturan – peraturan dan praktek – praktek yang didasarkan kepada toleransi relatif dari pohon – pohon dan tagakan.
Dalam praktek kehutanan di Eropa perhatian khusus telah diberikan kepada efek – efek yang tidak disukai dari tegakan terbuka jenis – jenis intoleran. Pengaruh yang terdiri dari jenis – jenis intoleran pada umumnya tidak disukai disebabkan oleh efek – efek pengeringan dan efek – efek dari angain kering pada permukaan tanah, sehingga tagakan – tagakan seperti itu biasanya ditanami dengan tumbuhan bawah yang terdiri dari jenis – jenis toleran, tegakan – tegakan campuran yang terdiri dari jenis – jenis toleran dan intoleran sangat dianjurkan, oleh karana adanya efek – efek yang menguntungkan dari jenis – jenis toleran dalam melidungi permukaan tanah terhadap matahari angin dan dalam memelihara atau memperbesar produktivitas tanah. Hanya jenis – jenis yang mempunyai tajuk – tajuk rapat dan tumbuh dalam tegakan – tegakan yang atap tajuknya tertutup dapat dianjurkan untuk ditanam sebagai tagakan – tagakan murni. Jenis – jenis pinus intoleran yang tajuknya terbuka diperbolehkan ditanam sebagai tegakan murni selama terdapat suatu tanaman penutup tanah untukmelindungai permukaan tanah.
Sangatlah penting bahwa jenis – jenis toleran dipelihara sedemikian rupa didalam tegakan – tegakan campuran sehingga tidak mengalahkan pohon – pohon intoleran yang disukai.
Jenis toleran mempunyai kemampuan untuk hidup dan bertahan selama waktu yang reletip panjang sebagai tumbuhan bawah : namun jenis intoleran harus tetap tumbuh cukup cepat supaya tajuik mereka tetap berada diatas, jika tidak mereka akan kalah didalam persaingan dengan jenis toleran yaitu apabila jenis ini menjadi lebih agresif dari pada jenis intoleran.
radiasi matahari
Sumber energi utama bagi tumbuhan hijau adalah radiasi sinar matahari. Energi ini diabsorbsi oleh tumbuhan secara langsung sebagai panas dan juga dirubah oleh tumbuhan tersebut menjadi energi kimiawi. Sejak tumbuhan hijau bergantung kepada cahaya matahari untuk mensintesis suplai makanannya, maka cahaya telah lama dikenal sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan pemudaan vegetasi. Energi matahari mencapai permukaan bumi sebagai gelombang – gelombang elektromagnetis. Bagian dari energi radiasi yang dapat dilihat mata manusia dinamakan cahaya. Energi yang terdiri dari panjang gelombang yang lebih panjang dari pada 720 mu dinamakan inframerah, dan yang lebih pendek dari pada 409 mu dinamakan ultra-ungu.
cahaya
Pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan tanaman bergantung kepada intensitasnya, kualitas atau panjang gelombangnya, lamanya serta priodisitasnya. Variasi dalam salah satu dari sifat – sifat ini dapat merubah kuantitas dan kualitas pertumbuhan, sebagai contoh anakan – anakan pohon yang tumbuh dalam cahaya berintensitas rendah tidak hanya berbeda tinggi dan berat kering dibandingkan dengan anakan – anakan pohon yang tumbuh dalam cahaya penuh, namun juga berbeda dalam perbandingan akan pucuk dan struktur daun serta batang. Lama penyinaran atau photo period mempengaruhi pertumbuhan vegetatip dan pembangunan, dan panjang gelombang mempengaruhi proses-proses lainya disamping terhadap fotosintesa.
kualitas cahaya atau panjang gelombang
Di alam ini, tumbuh – tumbuhan dikenal pengaruh penyinaran yang tidak tampak yang sangat luas penyebaranya. Termasuk didalamnya sinar inframerah yang lebih panjang panjang gelombangnya dari pada cahaya yang tampak, dan sinar ultra-ungu serta radiasi kosmik yang mempunyai pajang gelomgang lebih pendek dari yang pada cahaya yang tampak. Tumbuh tumbuhan pun dalam eksperimen – eksperimen dapat disinari sinar – sinar x dan bahan – bahan radioaktif. Semua panjang – panjang gelombang yang tak tampak ini dapat mempengaruhi pertumbuhan, apabila lama penyinaran dan intersitasnya cukup lama. Didalam variasi dalam panjang gelombang atau kualitas cahaya adalah sangat kecil, sehingga kepentingan fisiologisnya dapat diabaikan. Namun untuk pertumbuhan tanaman di bawah penyinaran tiruan kualitas cahaya ini sangat penting. Pertambahan yang paling besar dalam berat kering biasanya terjadi pada spektrum sinar matahari.

intensitas cahaya
intensitas cahaya sangat mempengaruhi pertumbuhan pohon melalui effek – effeknya secara langsung terhadap fotosintesis, pembukaan stomata, dan sintesa chlorophyll. Pengaruh intensitas cahaya terhadap pembesaran sel dan differensiasi sel berpengaruh terhadapap tumbuh tunggi, ukuran daun, dan struktur dari daun – daun serta batang.
Intensitas berlainan setiap hari dan stiap musim dan berubah menurut sderajat lintang. Penyinaran yang diterima persatu luas adalah llebih besar pada tampat – tempat tinggi dari pada tempat – tempat rendah. Awan, kabut, debu, dan asap dapat manahan cahaya, dan asap dapat menahan cahaya, dan di daerah – daerah industri sebanyak 90 % dari cahaya tertahan oleh asap. Terdapat literatur yang luas mengenai effek dari intensitas cahaya tehadap pertumbuhan pohon dan tentang reaksi dari berbagai species terhadap intensitas cahaya yang diredusir. Beberapa contoh : species sequoia mempunyai kebutuhan akan cahaya yang amat rendah, sedangkan Picea engelmanni dan Pseudotsuga menzzi membutuhkan cahya kira – kira dua kali lebih banyak untuk tumbuh dengan baik. Telah terbukti bahwa sejumlah species tumbuh – tumbuhan cepat hidup bertahan untuk beberapa bulan pada intensitas – intensitas cahaya rendah, namun tidak satupun yang bertambah berat kering. Bertamnbahnya berat kering yang sihasilkan hampir langsung sebanding dengan intensitas cahaya yang diterima.
INTENSITAS CAHAYA DAN PERTUMBUHAN
Pertumbuhan, yang ditentukan oleh pertambahan dalam berat kering bergantung kepada jumlah hasil fotosintesa dikurangi bagian yang terpakai dalam proses respirasi. Oleh sebab itu cahaya mempunyai effek yang signifikan tehadap pertumbuhan, karena pengaruh pada fotosintesa. Fotosintesa maksimum terjadi dalam cahaya matahari penuh. Namun, selama tengah hari, intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan meningkatnya temperatur daun yang berakibat buruk. Hal ini dapat menyebabkan menutpnya stomata dan menurunya fotosintesa.
Banyak bahan kering yang dihasilkan biasanya akan meningkat dengan bertambahnya intensitas cahaya sampai tercapai suatu keadaan maksimum dan kemudian menurun. Intensitas yang optimum bagi pertumbuhan berubah – ubah menurut temperatur dari cholopyll dan bergantung kepada intensitas cahaya.
Intensitas cahaya yang sangat tinggi lebih baik bagi pertumbuhan perakaran dari pada untuk pertumbuhan pucuk. Intensitas yang seperti ini menyebabkan transpirasi yang berlebihan pada tumbuhan, yang mengakibatkan batang – batang menjadi pendek, daun – daun yang lebih tebal tetapi lebih kecil, betambah banyaknya jaringan – jaringan pengankut air, dan menurunnya pertumbuhan. Pada intensitas – intensitas cahaya yang amat rendah perkembangan dan pertumbuhan daun –daun terhalang. Produksi bunga dan buah tidak terjadi pada cahaya yang amat lemah, namun berlangsung pada intensitas – intensitas sedang. Defisiensi cahaya dapat menunda waktu berbunga dan berbuah. Intensitas cahaya yang optimum bagi perkembangan bunga dan buah, maupun untuk produksi maksimum dari bahan kering, adalah lebih tinggi dari pada yang deperlukan untuk pertumbuhan vegetatip. Persentase dari bahan ( pucuk- pucuk), ratio dari berat kering akar – akar terhadap berat kering pucuk, kekuatan batang , dan tebal daun semuanya akan meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar